Cerita Perjalanan Umroh Pertamaku ( Part – 2 )
H-7 keberangkatan masih beraktivitas seperti biasa, kebetulan setiap awal bulan tuh jadwal ngerjain laporan bulanan di kantor. Setiap pulang kerja aku nyicil ngumpulin barang yang akan aku packing untuk keperluan umroh. Ah ya, jadi inget juga momen jahit baju seragam dan potong abaya ke penjahit karena semua abaya yang aku beli kepanjangan untuk tinggi badanku. H-2 sepulang kerja aku baru bener-bener packing, selesai packing H-1 keberangkatan dan kopernya langsung aku antar ke kantor travel. Lelah tapi excited sekaligus deg-degan, hehehe…
# Hari Keberangkatan
Tidur cuma 2-3 jam, trus jam 02.00 dini hari bangun dan siap-siap. Sekitar jam 03.30 WIB aku berangkat diantar bapak, teteh, dan dua keponakanku ke kantor travel. Setiba disana langsung sholat subuh, ambil ID Card, sekitar jam 05.30 WIB kami berangkat ke Bandara Soekarno Hatta.
Setiba di bandara kami menunggu cukup lama. Tapi nunggunya nyaman kok, cukup duduk, makan, sholat dzuhur dan ashar, nggak lupa foto-foto. Nggak ngurusin apa-apa lagi karena udah dihandle pihak travel.
Sekitar jam 15.00 WIB kami berangkat, Masya Allah.. ini jadi perjalanan panjang pertamaku dengan menggunakan pesawat, pertama kali keluar negeri, pertama kali punya paspor dan cetak visa. Malam hari kami tiba di Bandara Muscat untuk transit, nggak begitu lama tapi cukup untuk sholat dan sejenak beristirahat. Setelah itu kami kembali melanjutkan perjalanan ke Bandara Madinah.
Yups, info terbaru yang aku dapatkan waktu itu, kami nggak mendarat di Bandara Jeddah seperti rencana awal. Awalnya agak sedih karena nggak bisa liat akuarium raksasa, tapi waktu tau perjalanan dari Bandara Madinah ke hotel cuma setengah jam, seketika aku seneng. Badan ini rasanya udah pengen banget istirahat karena selama perjalanan dari Bandung ke Jakarta, dan dari Jakarta ke Muscat aku nggak bisa bener-bener istirahat dan tidur, huhu.
# Hari Pertama di Madinah
Sebelum subuh kami sudah tiba di hotel. Alhamdulillah jarak dari hotel ke Masjid Nabawi sangat dekat, hotel tempat aku menginap dekat Gate 307. Nanggung kalo istirahat dulu, akhirnya setelah nyimpen koper dan tas di kamar hotel, aku langsung wudhu dan sholat subuh ke Masjid Nabawi. Ini subuh pertamaku di Madinah. Awalnya cuma duduk diem merhatiin sekitar sambil nunggu adzan subuh. Tapi begitu adzan berkumandang, tangisku pecah. Masya Allah, Ya Allah ternyata aku bisa sampai kesini, sholat disini. Selesai sholat subuh langsung ke hotel, sarapan, beresin isi koper, mandi, istirahat. Ba’da ashar aku ikut tour sekitar Masjid Nabawi. Ternyata letak hotel tempatku menginap cukup strategis.
Lanjut malam hari ba’da isya aku dan rombongan akhwat mendapat jadwal ke Raudhah. Meski sempat hujan, alhamdulillah prosesnya sangat lancar. Mulai berangkat dari hotel hingga kembali ke hotel hanya memakan waktu 1 jam. Aku juga bisa sholat sunnah dan berdoa di Raudhah dengan sangat tenang dan nggak terburu-buru.
# Madinah Menenangkanku
Madinah terasa begitu teduh, ada ketenangan tersendiri ketika aku disini. Meski selalu ramai oleh jamaah dari seluruh penjuru dunia, tapi Madinah mampu membuatku begitu damai. Mungkin karena Rasulullah SAW dimakamkan di kota ini, berada di Madinah membuatku merasa begitu dekat dengan Rasulullah SAW. Oh ya, aku sempat ikut city tour juga ke Masjid Quba, rasanya ingin berlama-lama disana tapi kondisinya padat banget.
# Bertolak ke Mekkah untuk Melaksanakan Proses Umroh
Tiba hari dimana aku harus meninggalkan Kota Madinah. Sedih sebenernya karena selain aku masih betah banget disini, aku juga belum banyak eksplor area sekitar Masjid Nabawi. Tapi mau gimana lagi, tujuan utamaku ke tanah suci adalah untuk menunaikan ibadah umroh.
Sekitar ba’da dzuhur aku berangkat menuju Mekkah dengan menggunakan bis dari travel. Ambil miqot (niat) di Bir Ali, kemudian kembali melanjutkan perjalanan. Untuk kesekian kalinya tangisku pecah. Lagi dan lagi aku terharu karena nggak nyangka aku bisa berada di tanah suci.
# Mekkah Menguatkanku
Tiba di Mekkah sekitar jam 21.30 malam. Setelah makan malam dan sholat isya, kami langsung menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan thawaf dan seluruh rangkaian umroh. Alhamdulillah aku bisa menyelesaikan seluruh rangkaian umroh dengan lancar. Padahal kalo jujur kondisiku nggak baik-baik aja. Badanku mulai drop ketika masih di Madinah, kemudian saat ambil miqot (niat) di Bir Ali hidungku sempet mimisan juga karena cuacanya panas banget (padahal Desember mulai memasuki musim dingin). Tapi alhamdulillah badanku justru nggak ngerasa cape sama sekali. Bahkan kakiku juga nggak pegel setelah menyelesaikan proses umroh.
Ada satu hal yang bikin aku bingung tapi ya udah lah, haha. Aku kena batuk dan flu yang lebih parah saat di Mekkah dibanding saat di Madinah. Tapi uniknya badanku kuat-kuat aja menjalani hari-hari di Mekkah. Aku lebih sering jalan-jalan sekitar Masjidil Haram, iseng masuk ke mall, nyari spot foto viral, bahkan berlama-lama di depan Ka’bah untuk sholat sunnah, berdoa, atau kadang ngelamun doang.
Mekkah lebih sibuk dari Madinah, kota ini benar-benar selalu hidup. Oh ya, jarak dari hotel tempatku menginap menuju Masjidil Haram memang nggak dekat seperti saat di Madinah, tapi alhamdulillah tetap bisa aku tempuh dengan berjalan kaki. Serunya di Mekkah, setiap pulang sholat aku mampir jajan kadang ke Lulu, Bindawood, atau Abraj. Udah kayak keseharianku di Indonesia aja yang apa-apa jajan dulu, haha.
# Tangisku di Hari Perpisahan
Hari terakhir di Mekkah aku ikut city tour ke Jabal Rahmah dan sekitarnya. Pulang city tour ke Masjid Aisyah/Tan’im untuk ambil miqot (niat) umroh kedua. Nggak terasa ternyata ini hari terakhirku untuk bisa berada dekat dengan Ka’bah. Setiba di Mekkah setelah sholat dzuhur kami langsung melaksanakan proses umroh kedua. Ternyata ngalamin juga thawaf dibawah teriknya matahari tanah suci, hehe.
Selesai umroh kedua aku ngelamun. Inget kalo nanti malam bakalan thawaf wada atau thawaf perpisahan yang artinya besok aku nggak bisa mendekati area Masjidil Haram lagi alias besok aku pun pulang ke tanah air, hiks. Saat thawaf wada aku bener-bener nangis sejadi-jadinya. Rasa nggak ingin berpisah dengan Baitullah. Satu hal yang aku syukuri, aku berkesempatan memegang Ka’bah, alhamdulillah.
# Perjalanan Pulang
Hari terakhir di Mekkah aku sholat subuh di hotel, kemudian langsung bersiap-siap meninggalkan Kota Mekkah. Sempat city tour dan kulineran sebelum menuju Bandara Jeddah. Perjalanan pulang dimulai dari Bandara Jeddah menuju Bandara Muscat untuk transit. Kali ini transitnya cukup lama hingga aku bisa beneran tidur dulu setelah menunaikan sholat, hehe. Kemudian dari Bandara Muscat menuju Bandara Soekarno Hatta di tanah air. Tiba di Bandung dijemput kedua orangtuaku dan dua keponakanku. MasyaAllah alhamdulillah terimakasih Ya Allah aku bisa tiba di rumah dan berkumpul kembali dengan keluargaku dalam keadaan lengkap dan baik-baik saja.
# Perjalanan Ini Ternyata Mengubah Sudut Pandangku
Merenungkan perjalanan panjangku kali ini. Aku baru paham kenapa banyak orang rela mengeluarkan banyak hartanya demi bisa ke Tanah Suci, kenapa banyak orang bisa hingga berminggu-minggu berada di Tanah Suci, kenapa banyak orang yang sudah pernah ke Tanah Suci selalu berdoa agar bisa diundang kembali.
Karena berada di Tanah Suci begitu damai. Madinah yang menenangkan, dan Mekkah yang menguatkan. Jiwa ini rasanya dibersihkan. Berdoa memohon ampunan dan memanjatkan harapan disetiap kesempatan. Mendoakan kebaikan untuk orang-orang yang sudah sangat baik kepadaku. Nggak bisa dipungkiri di kehidupan sehari-hari selama di tanah air ada aja yang bikin jengkel. Tapi uniknya saat di Tanah Suci aku nggak inget orang-orang tersebut sama sekali. Hingga cukup kuserahkan pada Allah SWT saja apapun yang berkaitan dengan mereka.
Aku berdoa, semoga ibadah dalam perjalanan panjangku kali ini benar-benar diterima Allah SWT dan membawaku ke arah yang lebih baik lagi, aamiin.
Komentar
Posting Komentar