Cerita Perjalanan Umroh Pertamaku ( Part – 1 )
Assalamualaikum blog-ku yang tahun lalu udah dihinggapi sarang laba-laba karena jarang jarang jarang bangettt nulis, hehe.. Bismillah mengawali tulisan di tahun ini (yang udah terlanjur pertengahan tahun) dengan cerita perjalanan umrohku saat akhir tahun 2025 lalu.
Saat temen-temen baca tulisan ini, aku yakin pasti diantara temen-temen udah banyak banget yang pernah umroh. Tapi gapapa ya kalo aku ingin mengabadikan cerita perjalanan umrohku disini.
# Awal Mula Pengen Umroh
Sekian tahun hidup di dunia selalu ngerasa ‘kayaknya aku gak mungkin umroh karena tempatnya jauh, biayanya mahal, ibadah sehari-hariku biasa aja, dan hal-hal nggak mungkin lainnya’.
Tapi rasanya semua berubah seketika selepas bulan ramadan tahun lalu. Tiap liat konten tentang umroh milik orang lain di media sosial kok rasanya pengen nangis terus. Ditambah tahun lalu aku ngerasa lelah banget dengan kehidupan sehari-hariku. Rasanya pengen beristirahat sejenak dan menyampaikan segala keluh kesahku pada Allah SWT.
# Mulai Cari Travel Umroh
Setelah aku merasa yakin untuk siap berangkat umroh, aku mulai cari-cari travel umroh. Hal pertama yang aku lakukan adalah bertanya pada dua orang temanku yang udah pernah umroh terlebih dahulu. Kemudian nyari travel umroh yang udah resmi terdaftar, lokasi kantornya di bandung, keberangkatannya dari bandung, dan tentunya yang biayanya sesuai dengan budget kemampuanku.
Bagai gayung bersambut, sekitar bulan Juli 2025 tiba-tiba aku lihat iklan pameran halal travel di Pusdai Bandung. Salah satu travel umroh yang menjadi pertimbanganku turut hadir disana. Aku coba datang ke pameran tersebut dan tanya-tanya. Aku nggak langsung daftar, tapi aku pertimbangkan dulu sehari semalam, hahaha.
Keesokan harinya barulah aku daftar umroh di travel yang udah aku pilih, aku bayar DP terlebih dahulu. Jadi inget, saat daftar aku dapat diskon promo pameran dan nggak dikenakan biaya paspor karena aku udah punya paspor. Kalo ditotalkan aku jadi menghemat biaya sekitar 1,5 juta rupiah, alhamdulillah.
Aku pilih keberangkatan Bulan Desember 2025 dengan beberapa pertimbangan. Pertama; Bulan Desember adalah bulan kelahiranku dan kebetulan tanggalnya sangat berdekatan dengan jadwal umroh. Kedua; sebagai bentuk self reward karena udah berjuang setahun ini, hehe. Ketiga; sebagai bentuk evaluasi pergantian tahun. Keempat; Bulan Desember adalah waktu yang tepat untuk mengambil cuti panjang dari pekerjaanku. Kelima; rentang waktunya masih cukup jauh dari saat aku daftar ke travel umroh agar aku bisa mempersiapkan diri lebih matang.
# Mempersiapkan Budget Umroh
Setelah daftar dan bayar DP, jumlah budget yang harus aku persiapkan semakin jelas. Biaya paket umroh yang aku ambil, biaya untuk vaksin, belanja keperluan umroh, uang jajan selama disana, dan lain-lainnya semakin bisa aku perhitungkan dan persiapkan. Kalo boleh jujur, antara budget yang harus aku persiapkan dengan tabungan umroh yang aku punya agak mepet alias pas-pasan. Sebisa mungkin aku cukup-cukupin, hihi. Oh ya, aku merasa terbantu dengan perlengkapan umroh yang disediakan dari travel umroh. Perlengkapan umroh tersebut memang masuk ke biaya umroh, tapi barang-barangnya beneran terpakai semua olehku, jadi aku nggak perlu beli sendiri terlalu banyak.
# Ketika Allah SWT Mencukupkan Rezekiku
Ngebandingin total biaya umroh yang diperlukan dengan budget yang aku punya kalo dari kalkulatornya manusia itu pas-pasan banget. Waktu itu aku sempet berdoa, “Ya Allah, kalo nggak ada rezeki nomplok yang bisa aku dapetin, tolong cukupkan rezeki yang aku punya ini untuk segala keperluan umroh pertamaku ini” wkwk. Tahukah temen-temen, rasanya dengan budget pas-pasan yang aku punya, aku bisa beli segala keperluan umroh yang aku inginkan dengan kualitas yang lebih baik dari perkiraanku.
# Meyakinkan Diri, Pelunasan, Manasik, Pemantapan, Bismillah…
Sekitar tiga bulan yakni Agustus, September, dan Oktober aku berkali-kali meyakinkan diri. Keinginan pergi umroh ini beneran datang dari hati atau cuma FOMO aja? Ternyata rasa yakin itu muncul sendiri dari hatiku, bahwa aku nggak sekadar ingin berangkat tapi juga butuh untuk berangkat.
Akhirnya H-30 keberangkatan aku melunasi biaya umroh. Kemudian dapat informasi untuk mengikuti manasik, vaksin, pengambilan kelengkapan umroh, hingga pemantapan. MasyaAllah rasanya haru banget.
Dulu aku pernah berpikir, rasanya aku nggak akan pernah bisa berangkat ke tanah suci. Tapi ternyata kalo Allah SWT udah berkehendak, segala sesuatu yang nggak mungkin pun bisa berubah menjadi sangat mungkin.
Jadi inget juga satu momen saat manasik. Saat sambutan dari pihak travel umroh, kurang lebih intinya beliau berkata begini, “Mungkin selama ini ada amalan yang Bapak Ibu lakukan yang mengantarkan Bapak Ibu ke tanah suci”. Rasanya nyesss banget, mataku langsung berkaca-kaca. Amalan apa? Rasanya sampai kapanpun aku nggak akan pernah bisa menjawab amalan apa yang bisa mengantarkanku ke tanah suci. Aku hanya yakin ridho Allah SWT dan doa kedua orantuaku lah yang mengantarkanku ke tanah suci.
Bahkan dibandingkan amalan, rasanya kondisi lelahku saat itu yang membuatku butuh untuk berangkat ke tanah suci. Seperti orang yang sedang sakit, aku butuh pergi ke rumah sakit untuk menyembuhkan diriku sendiri.
Waktu bergulir begitu cepat, hari keberangkatan pun tiba juga. Bismillah akhirnya berangkat.
Ceritanya lanjut di PART – 2 ya teman-teman, hehehe.
Komentar
Posting Komentar