Lima Hal yang Aku Pelajari dari Perjalanan Umroh Pertamaku

Masih ngomongin tentang umroh, hehe. Gapapa ya? Kali ini aku pengen cerita tentang pelajaran yang aku dapatkan dari perjalanan umroh pertamaku. Karena ternyata perjalanan panjang kali ini mampu mengubah sudut pandangku yang dahulu, bahkan memberikan sudut pandang baru untukku.


1. Gak Semua Hal Bisa Sesuai Rencana Kita, Kuasa Allah SWT Tetap Diatas Segalanya

Merencanakan perjalanan jauh dalam rangka ibadah dan kegiatan-kegiatan yang ingin aku lakukan selama di Tanah Suci sedemikian rupa. Sebagai manusia biasa, aku berharap banget semua rencanaku bisa berjalan dengan sempurna. Nyatanya? Ada yang berjalan sesuai rencana, ada yang hampir meleset dan perlu ikhtiar lebih, dan ada yang ternyata memang harus meleset, hehe. 

Ketika hal-hal sesuai rencana dan perkiraanku, aku sangat bersyukur karena Allah SWT begitu memudahkan urusanku. Namun ketika ada hal-hal yang hampir meleset dan perlu ikhtiar lebih, aku nggak marah. Aku berpikir mungkin saja ini menjadi sedikit ujian yang Allah SWT berikan kepadaku agar aku terus menjadi lebih baik. Bahkan ketika ada hal-hal yang ternyata meleset dari rencana awalku, sekuat tenaga aku berpikir bahwa Allah SWT selalu punya cara yang pastinya lebih baik dari hamba-Nya. 

Dengan begitu aku jadi semakin sadar bahwa sesempurna apapun manusia berencana, kuasa Allah SWT tetap diatas segalanya. Rencana Allah SWT tetap akan menjadi yang terbaik untuk diri kita. Aku jadi belajar lebih tentang arti bersyukur, bersabar, tapi nggak pantang menyerah. Bahkan aku belajar bahwa terkadang dalam hidup, ada hal yang harus kita prioritaskan dan hal lain yang harus kita relakan.


2. Kalo Umrohin Orang Tua, Sebaiknya Kita Temani

Jauh sebelum aku bisa berangkat umroh, aku sering melihat para lansia yang berangkat umroh tanpa ditemani keluarganya yang berusia lebih muda. Awalnya aku pikir mungkin itu sama sekali nggak masalah. Tapi setelah perjalanan umrohku kemarin, aku berubah pikiran. 

Jadi kalo suatu saat aku bisa memberangkatkan kedua orangtuaku untuk umroh, maka aku juga harus ikut umroh untuk menemani mereka selama di Tanah Suci. Alasan pertama, tour leader dan muthowif nggak bisa selalu mendampingi para jamaahnya karena jumlah jamaah dalam satu rombongan pasti banyak. Alasan kedua, teman sekamar yang merupakan orang lain nggak punya kewajiban untuk mengurusi orangtua kita, karena setiap orang yang berangkat ke Tanah Suci pasti punya rencana masing-masing untuk melakukan segala aktivitas yang ingin mereka lakukan. Alasan ketiga, Tanah Suci tentu menjadi tempat yang masih asing apalagi jika usia orangtua kita sudah sepuh. Di tempat yang masih sangat asing, rawan tersasar bagi orangtua dengan usia yang sudah sepuh.


3. Belanja di Madinah Lebih Murah Dibanding Belanja di Mekkah

Ini remeh tapi penting, wkwk. Tujuan utama kita ke Tanah Suci memang untuk menjalankan ibadah umroh. Tapi pasti nggak lepas juga dari yang namanya belanja, baik sekadar belanja untuk diri sendiri atau bahkan belanja oleh-oleh untuk keluarga tersayang di Tanah Air. 

Awalnya aku kira, harga barang di Madinah mungkin hanya lebih murah beberapa riyal aja. Tapi nyatanya jauuuuuh. Harga barang yang dijual di Madinah jauh lebih murah dibanding di Mekkah padahal barangnya sama aja. Itu sih selintas yang aku lihat. Waktu umroh, sempet cuek-cuek pas di Madinah dan mikir ntar aja belanja lagi di Mekkah. Tapi setelah tiba di Mekkah nyesel dan rasa ingin balik lagi ke Madinah karena harga barang di Mekkah jauh lebih mahal, wkwk.


4. Pulang Umroh, Rasanya Hati dan Pikiran Gak Bisa Move On

Ini jangan ditanya, semua orang pasti merasakannya. Madinah yang menenangkan, dan Mekkah yang menguatkan. Dua kota vibes-nya masing-masing yang nggak bisa kita lupakan begitu saja. Keinget momen ketika entah kenapa rasanya hati seakan bersih banget nggak ada rasa benci sama siapapun sedikitpun. Ketika tiba-tiba air mata ngalir gitu aja entah karena memohon ampun teringat dosa-dosa, haru dan bahagia atas karunia yang Allah SWT berikan, dan momen lainnya. Ketika nggak kenal sama sekali dengan jamaah lain dari negara berbeda tapi dalam hati kami ngerasa kalo kami adalah saudara sesama Muslim. 


5. Selepas Umroh Jadi Lebih Berani Punya Mimpi yang Lebih Besar

Biaya umroh yang nggak sedikit, awalnya bikin aku berpikir, “Ya Allah aku mau ke Tanah Suci seenggaknya satu kali seumur hidup aja.” Pas sampe Tanah Suci? Auto berdoa, “Ya Allah nanti aku pengen umroh lagi, bareng orangtuaku, bareng keluargaku, bareng orang-orang yang aku sayangi, sesering mungkin tolong undang aku ke Tanah Suci lagi, aamiin”.

Sejak saat itu mulai berani bermimpi, berdoa, dan mempersiapkan untuk hal-hal yang lebih besar, untuk hal-hal yang sebelumnya bahkan nggak berani aku mimpikan, nggak berani aku doakan, bahkan nggak berani aku realisasikan karena menurut perhitunganku yang kayaknya nggak mungkin. Padahal ada Allah Yang Maha Kuasa yang bisa mengubah hal yang nggak mungkin sekalipun menjadi mungkin asal kita tetap berdoa dan berusaha.

Komentar