Kamis, 23 Mei 2024

KEB Intimate Session Bersama Kartika Soeminar : Berjuang dan Bangkit dari Jerat Seorang NPD (Narcissistic Personality Disorder)

Akhir-akhir ini kalo scroll Instagram ataupun Tiktok cukup sering nemu konten yang ngebahas tentang NPD. Aku pun akhirnya penasaran tentang NPD ini. Search di Google ternyata NPD merupakan singkatan dari Narcissistic Personality Disorder atau gangguan kepribadian narsistik. Cukup jelas dan lengkap penjelasan dari berbagai situs di Google, tapi menurutku kita nggak boleh asal nge-judge, jadi rasanya tetep pengen denger penjelasan langsung dari para professional atau ahlinya. 

Bagai gayung bersambut, komunitas Kumpulan Emak Blogger (KEB) ngadain acara Intimate Session di Bandung yang ngebahas tentang NPD. Acara yang mengusung tema “Break the Silence : 23 Years of Narcissistic Abuse Survivor” tersebut menghadirkan dua pembicara yakni Mbak Kartika Soeminar yang merupakan seorang NPD Abuse Survivor dan dr Zulvia Oktanida Syarif SpKJ yang merupakan seorang dokter spesialis jiwa. 

acara berlangsung hari sabtu, 18 mei 2024 pukul 10.30 WIB s/d selesai di Lawangwangi Creative Space, Jl. Dago Giri No.99, Mekarwangi, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat 40391


Kisah Mbak Kartika Soeminar (NPD Abuse Survivor)

Acara dimulai dengan Mbak Kartika yang menceritakan pertemuannya dengan sang suami pada usia 24 tahun, suaminya merupakan seorang warga negara asing. Proses dari perkenalan hingga menikah tergolong singkat, yakni hanya tiga bulan. Kehidupan pasca pernikahan ternyata menjadi ujian baru bagi Mbak Kartika karena ternyata suaminya seorang pengidap NPD. 

Nggak hanya 1-2 tahun aja Mbak Kartika harus berhadapan dengan suaminya, tapi hingga 23 tahun lamanya. Selama 23 tahun Mbak Kartika hidup bersama sang suami, cukup dikatakan beruntung karena Mbak Kartika nggak mendapat kekerasan fisik atau KDRT. Tapi tetap aja Mbak Kartika mendapat verbal abusive dan mental abusive yang dampaknya justru akan lebih sulit hilang. 

Hingga akhirnya dari 23 tahun usia pernikahan tersebut, Mbak Kartika pernah mengalami fase depresi kronis akibat perlakuan abusive dari sang suami yang mengidap NPD. Pasti luar biasa banget perjuangan Mbak Kartika untuk bisa bangkit dari situasi tersebut. 

Pengalaman Mbak Kartika berjuang dan bangkit dari seorang pengidap NPD terangkum dalam sebuah kampanye bertajuk #BrokenButUnbroken. Bersama KEB, mbak Kartika akan keliling ke sejumlah kota besar untuk mengedukasi masyarakat, khususnya perempuan tentang pentingnya memahami gangguan kepribadian narsistik dan cara menghadapinya.


Penjelasan dr Zulvia Oktanida Syarif, SpKJ (Dokter Spesialis Jiwa)

Acara dilanjutkan dengan penjelasan mengenai NPD secara lebih mendalam lagi oleh dr Zulvia Oktanida Syarif, SpKJ atau akrab disapa dr Vivi. NPD merupakan gangguan mental yang masuk ke dalam kelompok gangguan kepribadian. 

Pada dasarnya di dalam diri setiap orang memiliki rasa narsis, namun tetap dalam batas wajar. Sementara seorang pengidap NPD memiliki level narsis yang udah ekstrim sehingga dapat digolongkan sebagai penyakit. Selanjutnya dr Vivi menjelaskan penyebab, ciri-ciri, hingga cara menghadapi seorang pengidap NPD. 

Ada beberapa penyebab NPD, diantaranya : 

  • Faktor genetik ; misalnya jika salah satu orang tua merupakan seorang pengidap NPD, maka kemungkinan anaknya pun akan menjadi seorang NPD.
  • Faktor lingkungan ; misalnya keluarga yang disfungsional (sering diberi pujian berlebihan tanpa batasan dan tanggungjawab, atau sebaliknya sering disalahkan atau diabaikan secara konsisten).
  • Trauma emosional dan psikologis ;
  • Model peran ;
  • Kekurangan dalam pengaturan emosi ;

Adapun penyebab ilmiah seseorang bisa terdiagnosis NPD diantaranya :

  • Orang tua toksik dan narsistik ; orang tua narsistik mengendalikan setiap keputusan penting sang anak. Anak-anak didorong untuk melawan satu sama lain dan dilarang mengutarakan pendapat yang berlawanan dengan orang tua.
  • Anak yang nggak dianggap saat masa kecil ; biasanya mereka anak-anak pemalu, pendiam, dan penyendiri sehingga nggak menarik perhatian orang tua narsistik. Akibatnya mereka terabaikan dan disingkirkan dari keluarga.
  • Trauma penolakan saat masa kecil ; berakar dari kenyataan bahwa mereka ditolak saat menjadi diri sendiri, bisa memunculkan perasaan marah, kebencian, rasa malu, bersalah, dan frustasi yang pada gilirannya memicu orang tersebut untuk membela diri.
  • Faktor keturunan ; banyak orang nggak menyadari poin ini. Pola perilaku yang merupakan warisan dari orang tua mereka (pemodelan perilaku). Orang tua narsistik cenderung mencontohkan perilakunya kepada anak-anak mereka yang kemudian secara nggak sadar diikuti oleh anak-anak mereka dan dipandang sebagai perilaku yang benar. 

Bagaimana cara mengenali bahwa seseorang merupakan seorang pengidap NPD? Berikut ciri-ciri NPD yang umumnya terlihat :

  • Kesombongan atau keangkuhan yang berlebihan
  • Fantasi terhadap kesuksesan, kekuasaan, kecantikan, kecerdasan
  • Perasaan Istimewa dan adanya kebutuhan akan pengakuan
  • Haus pujian dan butuh dikagumi
  • Kurang empati
  • Ekploitatif
  • Harga diri yang rendah dan rapuh
  • Perilaku manipulatif (memutar balikkan fakta) dan mendominasi (ingin mengontrol orang sekitar)
  • Ketidakmampuan menerima kritik (anti kritik) dan mudah meremehkan orang lain
  • Masalah relasi interpersonal
  • Ketidakstabilan emosi

Gejala halus dari narsistik adalah ketika kepercayaan diri seseorang melampaui batas dimana mereka secara konsisten menyiratkan bahwa mereka lebih unggul dari orang lain. Misalnya saat mengerjakan satu proyek kelompok, mereka memposisikan pendapat mereka sebagai sesuatu yang lebih berwawasan luas atau berharga.

dr Vivi juga menjelaskan bahwa ternyata karakteristik NPD ada yang terlihat dan ada juga yang tersembunyi. Berikut perbedaannya :

  • Karakteristik NPD yang terlihat : ekspresif dan terlihat, karakteristik tampak, perilaku menonjol
  • Karakteristik NPD yang tersembunyi : lebih tertutup dan tersembunyi, tampak rendah hati, manipulatif secara halus, lebih sulit diidentifikasi

Cukup bikin aku kaget setelah tau bahwa karakteristik NPD ada yang tersembunyi sehingga sulit diidentifikasi. dr Vivi menjelaskan bahwa ada baiknya kita fokus pada bagaimana cara kita menghadapi seorang pengidap NPD :

  • Tetap tenang dan terkendali
  • Buat batasan, tetap teguh, dan kuat dalam batasan
  • Bicara dengan tenang, jelas, terbuka, dan jujur
  • Hindari menyerang, menyalahkan, mengkritik
  • Fokus pada fakta dan solusi
  • Jaga keamanan, kesehatan fisik, dan mental kita
  • Pilih pertempuran kita dengan cara tetap bijaksana dan hindari konfrontasi yang tidak perlu
  • Pahami batasan diri kita, ingatlah bahwa kita nggak bisa mengontrol atau menyelamatkan seorang pengidap NPD
  • Jika kita sudah terjebak dengan seorang pengidap NPD, ada baiknya jika akan memutuskan untuk berpisah, kita sendiri harus kuat secara mental dan materi terlebih dahulu

Ada beberapa fakta menarik mengenai seorang pengidap NPD, diantaranya :

  • Seorang pengidap NPD nggak akan merasa bahwa dirinya mengidap NPD. Jadi seorang pengidap NPD jika datang ke professional itu artinya karena ada masalah kehidupan atau karena ada komorbiditas gangguan mental lain. 
  • NPD termasuk gangguan mental yang kompleks dan sulit disembuhkan sepenuhnya. Meskipun tak dapat dipulihkan sepenuhnya, seorang pengidap NPD dapat mengalami perubahan secara signifikan dengan terapi yang tepat dan komitmen untuk perubahan. 
  • Perfeksionis bukan gejala NPD. Jadi misalnya dalam sebuah kerjasama tim dalam lingkungan kerja, seorang NPD yang menuntut hasil kerja timnya bagus, itu dikarenakan seorang NPD ingin dipandang dirinya sendirilah yang hebat. 
  • Pengidap NPD cenderung memiliki level narsistik yang ekstrim. Rasa percaya dirinya emang besar, tapi dibalik itu mereka mudah depresi jika sesuatu nggak berjalan sesuai dengan imajinasi mereka. 

berfoto bersama mbak kartika soeminar

Kisah Mbak Kartika yang berjuang dan bangkit dari jerat seorang pengidap NPD sangat menginspirasi diri kita bahwa setiap wanita berhak bahagia. Sebagai seorang wanita, kita pun harus berani dan berhak memperjuangkan kebahagiaan kita. Adapun penjelasan dari dr Vivi benar-benar mengedukasi dan membuka mata untuk lebih peka terhadap apa yang terjadi dalam diri kita maupun sekitar kita.

Jaman sekarang bahasan tentang isu kesehatan mental bukan hal tabu lagi. Ada banyak sumber yang bisa kita akses untuk menggali berbagai informasi namun tetap nggak boleh asal mendiagnosa. Maka dari itu sangat disarankan menghubungi professional jika ada tanda-tanda yang cukup mengganggu mental kita. Namun sebelum hal itu terjadi, kita bisa mulai dari hal-hal kecil seperti belajar memvalidasi perasaan kita dan jangan menghindar, kemudian memberi waktu untuk diri sendiri tapi juga nggak berlarut berada dalam masalah yang kita hadapi.

#Narcissistic #NPDSurvivor #NPDAwareness #BrokenButUnbroken #BreakTheSilence #KartikaSoeminarStory

23 komentar:

  1. Ternyata latar belakang penderita NPD ada unsur genetiknya juga ya. Unsur yang bikin ngga berdaya mereka yang qadarullah menjadi NPD. Tapi mungkin persentasenya kecil banget ya, Teh. Salut untuk survivor NPD abuse yang berhasil keluar dari lingkaran toxic. Kebayang berat banget tahapan yg harus dilalui hingga bisa bener-bener lepas. Semoga setelah ini, hidupnya lebih sehat lahir batin.

    BalasHapus
  2. Ternyata NPD berasal dari pola asuh juga ya, mb. Dari luka pengasuhan dan faktor pendukung lainnya. Jadi harus lebih hati-hati lagi dan banyak belajar lagi tentang pengasuhan yang baik dan sehat nih.

    BalasHapus
  3. Ketika pertama kali mengenal NPD ini, hal pertama yang saya googling adalah, bagaimana cara mengidentifikasi diri sendiri terkena NPD.
    Karena ini sangat penting menurut saya, kita bisa dengan mudah menilai orang, tapi sulit menilai diri sendiri.
    Apalagi gejala NPD ini sulit dideteksi kan.
    Semoga kita bukan pelaku dan korban orang NPD ya

    BalasHapus
  4. Insight baru banget ini.
    Dan benar kata Mba, bahwa setiap orang punya sikap nartistik tersendiri, terbukti dengan penggunaan media sosial seperti status WA yang saya rasa semua orang pasti pernah posting di sana. Namun yang jadi pertanyaan, apakah orang2 NPD ini juga akan berekspresi memenuhi ego NPDnya di media sosial Mba?

    BalasHapus
  5. Ya Allah baru kenal dengan istilah NPD ini ternyata berbahaya ya buat orang lain dan diri sendiri.. mesti banyak belajar lagi nih

    BalasHapus
  6. Keren banget Mba Kartika Soeminar ini bisa menghadapi suami NPD selama 23 tahun dan lebih keren lagi beliau juga membagikan pengalamannya kepada yang lain

    BalasHapus
  7. Menurutku KDRT lebih parah sich, dan termasuk verbal abusive juga mental abusive, yang mungkin akan sembuh jika ketemu dengan orang yang tepat jika terjadi perceraian. Pengidap NPD ini bearti tingkat kepercayaan dirinya power full ya,, nyebelin juga ya, klo gitu

    BalasHapus
  8. ya ampun jadi langsung mikir nih, aku narsis dalam tingkat normal gak ya hehe. ya jadi belajar nih berdasarkan pengalaman mbak kartika dan tentu wawasan terkait NPD di artikel ini.

    BalasHapus
  9. Terima kasih, Mbak, insight-nya. Saya jadi lebih ngeuh apa itu NPD. Pastinya menakutkan dan melelahkan saat menghadapi orang yang mengidap NPD yang tersembunyi karena manipulatif banget.

    BalasHapus
  10. Ternyata NPD juga genetik ya, kalau dari penjelasan lebih berbahaya yang tidak terlihat karena Manipulatifnta itu loh

    BalasHapus
  11. Aku aware soal NPD ini karena ada temenku yang mansunya NPD. Gara-gara aware, aku malah curiga supir takol yang pernah aku naiki itu NPD detected, karena waham kebesarannya haha

    BalasHapus
  12. Dampak pola asuh orang tua cukup besar hingga dewasa ya, saya baru tahu istilah NPD ini
    Beruntung mbak Kartika bisa lepas dari jerat ini ya, karena tidak banyak wanita yang menyadari kalau dirinya terjebak dan merasa dirinya tidak perlu bahagia

    BalasHapus
  13. Saya juga penasaran nih, Mba. Gimana kalau kita sendiri yang mengalami, ya? Apakah kita juga menolak jika ada yang memberikan nasihat? Btw, apakah Mba Kartika masih bersama suaminya dan apakah beliaunya sudah sembuh?

    BalasHapus
  14. Saya juga penasaran nih, Mba. Gimana kalau kita sendiri yang mengalami, ya? Apakah kita juga menolak jika ada yang memberikan nasihat? Btw, apakah Mba Kartika masih bersama suaminya dan apakah beliaunya sudah sembuh?

    BalasHapus
  15. Super percaya diri dan haus dipuja-puji dan dituruti keinginannya, duh NPD ini memang sangat melukai jiwa raga. Untung mbak Kartika sudah lepas dari pasangannya itu. Selama 23 tahun lamanya menderita alhamdulillaah kini sudah lebih bahagia.

    BalasHapus
  16. Berjuang dan bangkit lalu menginspirasi banyak perempuan agar lebih peduli, Mba Kartika meski seorang korban NPD yang beneran tangguh ya. Keren acara dan narsum KEBintimate ini euy!!

    BalasHapus
  17. Topik NPD selalu menarik untuk dibahas, dan senang sekali KEB menghadirkan #KEBIntimate Series dengan narasumber ahli seperti Ibu Kartika Soeminar. seminar ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang NPD, dari definisi, ciri-ciri, hingga dampaknya pada individu dan orang-orang di sekitarnya.

    BalasHapus
  18. Seru banget acaranya Mba bersama KEB, jadi banyak tahu juga soal NPD ya, dan semoga kita bisa terhindar dan tidak memiliki sifat itu, in case setiap manusia memilikinya tapi ga dominan

    BalasHapus
  19. Seru sepertinya gabung bareng KEB, bisa kumpul sesama blogger dan dapat ilmu pengetahuan kekinian seperti NPD ini. Terlihat kurang terekspos, padahal ternyata semenyeramkan itu ya NPD ini. Ajang KEB Intimate session ini bisa jadi salah satu cara untuk mensosialisasikannya agar masyarakat teredukasi tentang bahaya NPD

    BalasHapus
  20. Pola asuh ortu pada anak sangat berpengaruh ya ternyata. Jadi bercermin diri, pola asuhku ke anak-anak gimana ya, sudah benarkah.....

    BalasHapus
  21. Salut banget dengan Mbak Kartika yang bisa berjuang keluar dari circle toksis NPD. Mana bisa speak up untuk memberi support perempuan lain agar bisa terhindar dari bahaya mental pelaku NPD. Gak mudah pastinya itu. Adikku aja masih susah untuk bisa keluar. Ada banyak rintangan yang susah untuk ditaklukkan. Semoga para perempuan yang sedang dalam circle toksik NPD bisa segera keluar. Sebab semua perempuan berhak untuk hidup bahagia.

    BalasHapus
  22. Keren mbak Kartika bisa kuat menghadapi orang dengan gangguan NPD. Karena ada KEBintimate jadi tau d kalau ada penyakit kejiawaan NPD...

    BalasHapus
  23. Penting banget nih buat orangtua supaya anaknya nggak jd NPD, faktor lingkunhan keluarha berpengaruh juga kan. Kalau dibayangin jadi serem

    BalasHapus

Pelatihan Literasi Digital untuk Disabilitas Tuli dan Filantropi Pesantren Digital di Rumah Quran Isyaroh

Selama ini, pernahkah terpikirkan oleh kita bagaimana para disabilitas tuli dapat mengaji Al-Quran? Jika bahasa isyarat untuk huruf alfabet ...