Jumat, 18 November 2022

Makin Melek Inklusi dan Literasi Keuangan Bersama Home Credit #BisaJadiJADIBISA


Menutup bulan Oktober dengan sharing tentang acara keuangan yang aku ikuti beberapa hari yang lalu. Yups, Kamis, 27 Oktober 2022 yang bertepatan dengan Hari Blogger Nasional kemarin aku abis ikut acara Blogger Gathering bareng Home Credit. Tema yang dibahas udah pasti nggak jauh-jauh dari keuangan dong, yakni tentang inklusi dan literasi keuangan. Btw, pasti temen-temen udah pada tau juga dong kalo setiap bulan Oktober diperingati sebagai Bulan Inklusi Keuangan.

Blogger Gathering bareng Home Credit kemarin menghadirkan pemateri yang keren-keren banget. Mulai dari Bapak Sheldon Chuan selaku Chief Marketing and Digital Officer Home Credit, Bapak Melvin Mumpuni selaku CEO Financialku(dot)com, dan Bapak Ajisatria Suleiman selaku Researcher Center for Indonesian Policy Studies (CIPS).


Apa sih Inklusi Keuangan dan Literasi Keuangan itu?

Oke, pertama kita review dulu sedikit tentang apa itu inklusi keuangan dan literasi keuangan. Menurut World Bank dalam website OJK, inklusi keuangan merupakan akses terhadap produk dan layanan jasa keuangan yang bermanfaat dan terjangkau dalam memenuhi kebutuhan masyarakat maupun usahanya dalam hal ini transaksi, pembayaran, tabungan, kredit, dan asuransi yang digunakan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. Sementara literasi keuangan merupakan bentuk investasi jangka panjang yang bermanfaat dalam mengelola dan menjaga kondisi keuangan agar tetap terjaga dan stabil.


Jujur aku baru tau setelah denger pemaparan dari Bapak Ajisatria Suleiman, bahwa tingkat inklusi keuangan masyarakat Indonesia saat ini mencapai 84,2%. Sementara tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia saat ini hanya mencapai angka 49,9%. Kalo dibanding tahun 2019 sih persentase tersebut meningkat ya, tapi tetep aja di tahun 2022 ini masih ada selisih yang relatif tinggi antara inklusi dan literasi keuangan yakni sekitar 34,3%.

#HomeCredit Dorong Inklusi dan Literasi Keuangan Masyarakat Indonesia

Melihat masih tingginya selisih antara inklusi dan literasi keuangan di Indonesia, Home Credit siap mendorong inklusi dan literasi keuangan masyarakat Indonesia melalui program, produk dan layanan keuangan yang dimiliki Home Credit.


Bapak Sheldon Chuan memaparkan program yang dimiliki Home Credit diantaranya rangkaian pameran belanja multiproduk dan edukasi keuangan bernama PESTA yang diiringi konten-konten digital untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat Indonesia. Pas banget nih saat ini rangkaian pameran PESTA lagi berlangsung di tiga kota di Indonesia, yakni Bandung (23-29 Oktober 2022), Medan (31 Oktober – 6 November 2022), dan Manado (22-28 November 2022).

Kemudian, produk dan layanan yang dimiliki Home Credit juga mengusung transparansi, jelas, dan bertanggung jawab dengan mengoptimalkan teknologi digital. Aneka produk dan layanan seperti pembiayaan barang, modal usaha, dan asuransi dari Home Credit dapat diakses oleh masyarakat melalui aplikasi My Home Credit. 

Wujudkan Rencana Hidup dengan Semangat Baru #BisaJadiJADIBISA

Saat acara Blogger Gathering berlangsung, Bapak Melvin Mumpuni bertanya pada para peserta yang hadir, “Boleh nggak sih kita berhutang?”. Menurutku tentu saja boleh asal sesuai kebutuhan, paham tujuan berhutang, dan memperhatikan kondisi keuangan kita terlebih dahulu.


Misalnya nih, kita berencana mengajukan pembiayaan barang berupa laptop. Pertama, kita bisa nentuin laptop seperti apa yang sesuai dengan kebutuhan kita. Jadi nantinya nominal pinjamannya pun akan tepat sasaran. Kemudian kita juga harus paham tujuan beli laptop itu untuk apa. Akan sangat lebih baik kalo berhutang untuk hal-hal produktif, misal laptop yang kita beli nanti akan kita gunakan untuk menunjang pekerjaan kita. Terakhir yang nggak kalah penting yaitu perhatikan kondisi keuangan kita terlebih dahulu. Beberapa hal yang bisa dijadikan acuan untuk mengetahui kondisi keuangan kita sebelum berhutang, diantaranya pemasukan lebih besar atau sama dengan pengeluaran, memiliki cukup dana darurat; tabungan; dan investasi, dan besaran hutang nggak lebih dari misalnya maksimal 30% penghasilan.

Satu hal yang nggak boleh diabaikan saat mengajukan pembiayaan yaitu pilihlah lembaga keuangan yang udah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jelas, transparan, dan bertanggung jawab. Bahkan lebih bagus lagi kalo lembaga keuangan tersebut rutin menyampaikan edukasi, wawasan, dan keterampilan keuangan secara online maupun offline seperti Home Credit.

Dengan semangat baru #BisaJadiJADIBISA Home Credit membantu mewujudkan rencana hidup masyarakat Indonesia dengan aman dan nyaman.

Tentang Home Credit
Home Credit merupakan perusahaan pembiayaan berbasis teknologi yang beroperasi di Indonesia sejak tahun 2013. Home Credit juga merupakan bagian dari perusahaan global Home Credit International loh. Home Credit melayani pembiayaan barang-barang seperti gadget, smartphone, peralatan elektronik, peralatan rumah tangga, dan furnitur. Home Credit memiliki misi menerapkan pembiayaan yang bertanggung jawab, dimana aspek sosial dan tata kelola perusahaan bahkan lingkungan (ESG) telah melekat dalam bisnis operasional Home Credit. Penerapan ESG tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat agar bisa menjalani kehidupan yang mereka inginkan pada saat ini.

sebelum pulang, ikut foto juga ah. hehe.. 

16 komentar:

  1. Senangnya pas hari blogger Nasional, ke acara bertema keuangan, memang pas ya kebetulan Bulan Inklusif Keuangan juga. Hutang menurut saya boleh-boleh saja sih, apalagi memang kalau sifatnya butuh dan mendesak dan bukan untuk komsumtif. Saya pun pernah berhutang untuk kebutuhan ini. Yep asalkan memang kita bertanggung jawab untuk mengembalikannya nanti, lagi pula kalau masih ada tanggungan belum tenang.

    BalasHapus
  2. Soal hutang, bolehkah kita berhytang, yaaa boleh saja asalkan bukan untuk tujuan beli barang konsumtif. Bener, Kak. Untyk tujuan produktif pun mesti proporsional.

    BalasHapus
  3. Waaah, gathering blogger bareng Home Credit ya.. Jadi bikin blogger makin berwawasan nih ya.. Semoga bakal ada juga di Bali yah.

    BalasHapus
  4. Blogger Gathering bareng Home Credit pasti manteb banget. kta jadi belajar dan memiliki pengetahuan baru tentang literasi keuangan dan seba serbi kredit. Bisa langsung dipraktekin sehabis ini hehehe

    BalasHapus
  5. Baru ngeh kalau bulan Oktober juga Bulan Inklusi Keuangan, Kak. Tahunya hari bloger nasional aja hehe. Memang sih kalau harus berutang ya sebaiknya utang yang produktif, yang bisa dipakai untuk menghasilkan income sehingga beban utang tidak memberatkan. Itu pun ya harus lewat skala prioritas ya, apalagi kalau sudah berumah tangga, wajib dirembuk biar keputusan bisa dipertanggungjawabkan. Makasih kak.

    BalasHapus
  6. boleh juga slogannya ya kak, jadi makin menyemangati ibu2 untuk bisa mewujudkan kebutuhan rumahnya. setuju banget soal utang itu ya boleh2 aja asal harus kita batasi juga dan kalau bisa yang produktif juga ya tipe utangnya

    BalasHapus
  7. Sejak pandemi, saya semakin sadar pentingnya memahami literasi keuangan. Karena manfaatnya memang besar. Jangan sampai juga hodup menjadi tidka nyaman karena salah mengelola keuangan

    BalasHapus
  8. benar nih Kak, berutang bisa saja boleh, yang penting jelas dan kita yakin bisa membayarnya sesuai dengan waktunya.
    apalagi jika memang kita berutang karena penting dan mendesak, seperti untuk biaya atau modal usaha/kerja, dan paling penting lagi sih tempat berutangnya juga harus jelas dong ya.

    BalasHapus
  9. Aku baru dengar Home Credit nih, tapi bagus yah bisa jari solusi saat kita ingin membeli sesuatu tapi uang belum cukup

    BalasHapus
  10. Literasi keuangan itu investasi jangka panjang....dst? Eh serius, selama ini kukira literasi keuangan itu pengetahuan dan keterampilan kita dalam bidang keuangan, termasuk bidang investasi.

    BalasHapus
  11. Wah aku pernah banget berhutang di homecredit ini pas baru pertama kali beli smartphone, karena belum memiliki cukup uang dan ada keinginan untuk punya hp yang canggih tapi murah. Akhirnya memutuskan untuk beli di homecredit ini, wah pengalaman enak banget disini, dan rapi banget. Homecredit emang debest!

    BalasHapus
  12. Siapun dia, apapun latar belakangnya sudah memanbg wajib tau literasi keuangan. Paling tidak dasar dasarnya. Thanks to Home Credit yg menjadi salah satu pilar Indonesia melek literasi keuangan

    BalasHapus
  13. Menarik banget nih, baru aja aku belajar di seminar tentang keuangan juga, berhutang emang nggak dilarang tapi kita harus tau kemampuan kita. Kerenn kak :D

    BalasHapus
  14. Manusia hidup ya, kadang udah bertekad gak berutang, eh ternyata ada kejadian yang bikin harus berutang. Kyk pandemi kemarin misalnya beberapa akhirnya di-PHK dan butuh berutang buat beli kebutuhanya. Kalau masih kyk gtu msh oke ya mbak, yg gak wajar kalau berutang demi gaya hidup aja. Misal beli HP terbaru buat gaya2an hehe.

    BalasHapus
  15. Setuju...berhutang asal sesuai kebutuhan, paham tujuan dan perhatikan kondisi keuangan. Dan Home Credit yang bisa bantu mewujudkan rencana hidup masyarakat Indonesia dengan aman dan nyaman.

    BalasHapus
  16. Seru sih kalau ada penyuluhan soal keuangan inklusi gini, biar masyarakat teredukasi dengan benar, terutama bagian utang konsumtif dan investasi

    BalasHapus

Perjalanan Maya Stolastika Boleng, Lulusan Sastra Inggris yang Menjadi Petani Organik Milenial

Ketika ditanya ‘ingin bekerja dimana setelah lulus kuliah?’, sebagian besar pasti menjawab ingin bekerja di sebuah perusahaan besar, BUMN, m...