Sabtu, 13 Januari 2024

Gunung Papandayan Garut : Pendakian Minimal, Pemandangan Maksimal

ini posenya lagi apa ya

Ternyata mendaki gunung bisa bikin candu juga ya, wkwk. Meski ngerasain cape saat pendakian tapi bakal terbayar dengan indahnya pemandangan sepanjang jalur atau saat di puncak. Belum lagi ketemu temen baru dan pengalaman lainnya.

Pas pengen naik gunung lagi, tiba-tiba temanku ngajakin mendaki ke Gunung Papandayan. Nggak pake mikir lama aku langsung mengiyakan. Gunung Papandayan berlokasi di Garut yang nggak begitu jauh dari Bandung dan akupun belum pernah kesana sama sekali, jadi ya udah gaskeun aja.

Meski pendakian ke Gunung Papandayan terbilang cukup mudah, tapi buatku yang seorang pemula momen ini tetep punya tantangan tersendiri dan memorinya nggak bisa dilupakan, eaaak…


# kami berlima perempuan yang mayoritas pemula

Pendakian kali ini terdiri dari lima orang yang kesemuanya perempuan. Bisa dibilang yang udah sering mendaki gunung baru satu orang sementara empat orang lainnya masih pemula termasuk aku. Tapi yang bikin seru ini justru karena orang-orangnya enjoy banget, kompak juga mau ngelakuin apapun selalu barengan, wkwk. 


# berangkat tanpa jasa opentrip

Ini jadi pengalaman pertamaku berangkat mendaki tanpa jasa opentrip. Jadi kami sewa berbagai macam logistik yang diperlukan dan melakukan berbagai hal secara mandiri. Setelah tau medannya ternyata fasilitas Gunung Papandayan emang udah selengkap itu, jadi nggak masalah kalo kesini tanpa menggunakan jasa opentrip.

Kami berangkat Sabtu, 18 November 2023 pukul 15.30 WIB dari Bandung dengan diantar hingga tepat di Taman Wisata Alam Papandayan. Di perjalanan kami sempat beli beberapa bahan makanan yang diperlukan trus ambil tenda, matras, dan logistik lainnya yang kami sewa. Tiba di Taman Wisata Alam Papandayan pukul 20.00 WIB. Awalnya kami berniat langsung mendaki saat itu juga, tapi dengan beberapa pertimbangan dan saran dari petugas juga, akhirnya kami memutuskan untuk berkemah di Camp Area dekat parkiran terlebih dahulu.

harga tiket masuk Rp 35.000, tapi kami dapet diskon jadi Rp 30.000 aja kalo gak salah

Sampai di Camp Area kami mendirikan tenda yang ternyata gampang-gampang susah, wkwk. Beruntung ada petugas yang membantu hingga tenda bisa berdiri dalam waktu singkat. Suara perut memanggil kami untuk segera makan malam, haha. Segera kami buka perbekalan di dalam tenda. Oh ya, karena berdasarkan info dari petugas di area Gunung Papandayan masih berkeliaran babi hutan, jadi untuk sampah makanan dan bahan makanan kami gantungkan di ketinggian pohon. 

Nggak terasa waktu udah menunjukan pukul 22.00 WIB dan ternyata kami lelah juga. Kami istirahat dan berencana bangun pukul 02.30 WIB untuk bersiap-siap mendaki Gunung Papandayan. Sejujurnya aku nggak terlalu nyenyak tidur sih, trus rentang waktu dari pukul 22.00 WIB ke 02.30 WIB berasa lama banget, wkwk.

foto dulu sebelum tidur


# mendaki subuh ala-ala summit

Minggu dini hari jam 02.00 WIB satu orang temanku udah bangun, akupun karena nggak bisa tidur lagi jadi akhirnya ikutan bangun juga. Setelah semua bangun, cuci muka tapi nggak mandi, pakai sunscreen meski masih subuh, mengganjal perut dengan sedikit makanan dan minuman hangat, akhirnya pukul 04.30 WIB kami bersiap untuk mendaki Gunung Papandayan. 

Semua barang kami tinggalkan di dalam tenda kecuali barang penting seperti dompet dan hape. Eh, kami juga bawa sedikit cemilan dan masing-masing sebotol air putih 600 ml. Sementara makanan kelompok dibawa oleh satu orang temanku dalam sebuah ransel. Oh ya, karena udara masih dingin dan hari masih gelap, nggak lupa kami pakai jaket, sarung tangan, dan headlamp.

Gerbang pendakian berada nggak jauh dari Camp Area. Memasuki jalur pendakian dengan jalan beraspal yang terbagi dua yaitu jalur pejalan kaki dan jalur motor. Sementara kanan dan kiri jalan terbentang pepohonan yang nggak begitu tinggi. 


# mengabadikan momen setiap sekian meter pendakian

Nggak lama setelah jalur aspal kemudian masuk jalur berbatu, di depan sana nampak asap dan tebing yang cukup tinggi tapi nggak begitu terlihat jelas karena hari masih gelap. Ketika membalikan badan tampak di kejauhan kelap-kelip lampu yang kutebak berasal dari pemukiman warga. Diatasnya nampak siluet tanda matahari akan terbit. Nggak mau kehilangan momen ini, kami langsung foto-foto dulu dong, haha. 

di depan ada asap kawah, pas balik badan kelap-kelip lampu di kejauhan

Selesai berfoto kami melanjutkan perjalanan, bau belerang mulai tercium tapi nggak begitu menusuk hidung. Matahari mulai nampak dan lautan awan mulai terlihat. Setiap ada pemandangan bagus, kami berlima otomatis berhenti untuk berfoto, haha. 

area kawah dengan aroma belerang

Bisa dibilang Gunung Papandayan ini treknya nggak yang gunung banget. Pantesan ada yang bilang ke Gunung Papandayan tuh main-main bukan mendaki, hehe iya deh. Sepanjang jalur terdapat toilet yang udah proper banget. Bahkan di ujung jalur berbatu terdapat deretan toilet, mushola, bahkan warung. 

wajib foto di pertigaan ini

Kemudian masuk jalur tangga batu yang cukup teduh karena kanan dan kiri jalan terdapat pepohonan. Makin berada di ketinggian makin luas pandangan ke segala penjuru. Terlihat ada warna-warni kayak tenda, hmm itu Pondok Saladah bukan ya? Aku nggak tau juga. 

Nggak lama setelah melewati tangga batu, akhirnya sampai juga di area Hutan Mati. Pendakian kami hanya sampai di area ini. Langsung foto-foto dulu kemudian barulah kami buka perbekalan sambil beristirahat. Kemudian foto-foto lagi, wkwk.

sampe di hutan mati langsung foto-foto karena pemandangannya seindah ini

Saat kami memutuskan untuk kembali ke tenda, di perjalanan ku kira udah tengah hari karena langit udah cerah banget tapi udara masih sejuk, nyatanya baru pukul 10.00 WIB. Tapi begitu mendekati tenda baru deh kerasa teriknya, wkwk. Eh di perjalanan pulang menuju tenda kami foto-foto lagi, emang deh Gunung Papandayan ini pemandangannya bikin pengen foto-foto terus. Sampai di tenda kami mulai membereskan barang-barang kami, kemudian membersihkan diri, menikmati makan siang, dan terakhir bongkar tenda. 

area yang udah kami lewati saat berangkat, dibawah sana ada toilet, mushola, warung, dll

pulang malah lewat jalur motor, wkwk

kiri atas : denah area taman wisata alam papandayan
kanan atas : area parkir
kiri bawah : gerbang pendakian gunung papandayan
kanan bawah : jalur pendakian yang terbagi menjadi jalur pejalan kaki dan jalur motor

ini dia tenda kami berlima

# negosiasi cukup panjang jelang perjalanan pulang

Oh ya, untuk akomodasi pulang awalnya kami akan menyewa kendaraan sampai Garut karena kami berencana kulineran dulu disana, baru kemudian disambung bis ke arah Bandung. Tapi sayang harga sewa kendaraannya ternyata cukup mahal. Udah berusaha nego cukup panjang tapi tetep nggak dapet harga yang kami inginkan. Beruntung temanku punya kenalan yang bersedia mengantar kami dari area Gunung Papandayan hingga ke Bandung. Kami juga sempat berhenti untuk sekadar membeli oleh-oleh khas Garut. Perjalanan lancar banget karena drivernya tau jalur yang nggak macet. Sekitar Maghrib aku udah sampai di rumah, alhamdulillah. 

foto sambil bawa ransel biar keliatan naik gunungnya

foto dulu di gerbang taman wisata alam papandayan saat mau pulang

Secara keseluruhan, pendakian ke Gunung Papandayan ini nyantai dan ramah pemula banget, terbukti kakiku nggak pegel sama sekali, wkwk. Pemandangannya pun bikin pikiran seger untuk kembali menghadapi realita kehidupan keesokan harinya, haha. 

Hmmm, next 2024 mendaki ke gunung mana lagi ya? Weyyy laaaah, wkwk

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KEB Intimate Session Bersama Kartika Soeminar : Berjuang dan Bangkit dari Jerat Seorang NPD (Narcissistic Personality Disorder)

Akhir-akhir ini kalo scroll Instagram ataupun Tiktok cukup sering nemu konten yang ngebahas tentang NPD. Aku pun akhirnya penasaran tentang...