Kamis, 15 Februari 2018

Launching Fitur Terbaru Aplikasi Paytren5.0 Kolaborasi Bisnis Paytren dan Grab



Selasa, 13 Februari 2018 kemarin Paytren meluncurkan fitur terbaru pada aplikasi Paytren5.0 yang bekerjasama dengan Grab Indonesia.  Acara yang diselenggarakan di kantor pusat Paytren PT. Veritra Sentosa Internasional The Suites Parahyangan Business Park Jl. Soekarno Hatta No.693 Bandung ini dihadiri oleh Ustadz Yusuf Mansur selaku Owner sekaligus Founder Paytren, Bapak Hari Prabowo, SE. selaku Direktur Utama Paytren, Bapak Ongki Kurniawan selaku Perwakilan Grab, dan Kaesang Pangarep selaku Founder Madhang.

Ah ya, udah pada tau Paytren dan Grab kan? Pasti udah nggak asing lagi ditelinga kita ya. Tapi kita ulas sedikit tentang Paytren dan Grab.


PT. Veritra Sentosa Internasional (berdiri sejak 2013) atau yang lebih dikenal dengan Paytren merupakan perusahaan penyedia layanan teknologi perantara transaksi di tingkat nasional melalui pemberdayaan manusia dengan konsep jejaring yang sesuai perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat saat ini. Paytren mendorong masyarakat pengguna gadget, khususnya smartphone berbasis IOS dan Android bahkan juga pengguna Dekstop untuk meningkatkan fungsi menjadi alat untuk bertransaksi dengan manfaat dan keuntungan yang tidak akan didapatkan dari cara bertransaksi yang biasa. Hal ini juga sejalan dengan program pemerintah untuk membentuk masyarakat tanpa uang tunai (cashless society) baik secara nasional maupun internasional.


Grab merupakan layanan transportasi on demand dan pembayaran mobile terdepan di Asia Tenggara. Produk utama Grab mencakup solusi berkendara bagi pengemudi maupun penumpang yang menekankan pada kenyamanan, keselamatan dan kepastian, termasuk platform pembayaran mobile, GrabPay, yang meningkatkan akses terhadap solusi pembayaran mobile bagi jutaan mitra pengemudi dan penumpang di seluruh Asia Tenggara dan memperdalam inklusi keuangan di wilayah tersebut. Di Indonesia, jaringan agen Grab membantu masyarakat yang tidak memiliki dan memiliki akses terbatas terhadap layanan perbankan untuk memanfaatkan platform GrabPay untuk ambil bagian dalam revolusi digital.

Itulah sekilas tentang Paytren dan Grab. Lalu, apa itu fitur terbaru pada aplikasi Paytren5.0?


Pada peluncuran Paytren5.0 kemarin dijelaskan bahwa peluncuran fitur baru dalam Paytren5.0 ini dibuat untuk membantu mitra-mitra Paytren agar memperoleh benefit tambahan dari kerjasama dalam merekrut pengemudi Grab untuk mendukung program pemerintah dalam meningkatkan peluang bekerja baru bagi masyarakat. Paytren dan Grab menjalin kerjasama strategis untuk membentuk jaringan pengusaha mikro terbesar di Indonesia dengan lebih dari 3 juta anggota (2 juta mitra Paytren dan 1 juta mitra Grab), serta diharapkan dapat membangun semangat jiwa kewirausahaan dan memperluas kesejahteraan masyarakat.



Peluncuran fitur terbaru pada aplikasi Paytren5.0 kemarin merupakan tindak lanjut atas perjanjian kerjasama resmi antara Paytren dan Grab pada tanggal 13 Desember 2017 di Jakarta. Dengan konteks mitra paytren dapat melakukan rekrutmen pengemudi Grab (baik GrabCar maupun GrabBike) melalui fitur baru yang tersedia pada aplikasi Paytren5.0, sehingga memberi benefit lebih bagi mitra Paytren. Seluruh mitra pengemudi yang direkrut oleh mitra Paytren tetap akan didaftarkan ke Grab dan harus memilih badan hukum seperti koperasi sesuai dengan peraturan pemerintah yang berlaku saat ini.

Sementara itu, Madhang adalah merek, aplikasi bergerak, situs web, dan jasa penyediaan fasilitas pemesanan dan pemasaran makanan/minuman yang dimiliki dan dikelola oleh Madhang Nuswantoro Indonesia sebuah perusahaan rintisan. Madhang mempunyai arti makan, kata ini berasal dari Bahasa jawa. Aplikasi Madhang ini sengaja diciptakan untuk mencari makanan yang sangat special yang berasal dari setiap keluarga di Indonesia. Keunikan dari madhang adalah setiap keluarga berhak untuk berkreasi dan menyajikan makanan yg terbaik untuk setiap orang ataupun tamu nya, karena di dalam filosofi jawa, ada istilah jika kita menerima tamu, hendaklah kita berikan yg terbaik untuk mereka.

Paytren dan Grab pun telah bekerjasama dengan Madhang. Penandatangan kerjasama antara Paytren, Grab, dan Madhang telah dilakukan di Semarang bulan lalu. Kerjasama Madhang dengan Grab meliputi kerja sama dalam infrastruktur digital, infrastruktur pengantaran makanan, promosi program rewards dan layanan Grab for Business. Sedangkan dengan PayTren, Madhang mengintegrasikan fasilitas pembayaran secara online yang dimiliki PayTren dengan aplikasi Madhang.


Ustadz Yusuf Mansur menyampaikan, “Agar siapapun yang bekerja dan berbisnis di Indonesia, mengembalikan lagi untuk kebaikan-kebaikan di indonesia. Pada gilirannya, karena didorong bersedekah oleh sistem, maka sesuai dengan sifat sedekah, pengemudi dan penumpang akan jauh lebih banyak lagi dan lebih berkah lagi rizkinya, Insya Allah”.

Selasa, 13 Februari 2018

[Review] Mascara dan Eye Liner My Darling (Bonus Review Eye Brow Mukka)


Rasanya belajar dandan nggak lengkap tanpa belajar riasan mata juga ya. Nah buat riasan mata, ada satu merek yang mungkin nggak terlalu terkenal tapi bukan abal, dan ini bagus banget buat sekelas riasan mata yang harganya murah.
 

Mascara dan Eye Liner aku beli merek My Darling, ini maskara pertama yang pernah aku coba waktu mau wisudaan S1 dulu. Banyak beauty blogger yang review ini bagus meskipun murah. Sedangkan Eye Brow aku beli merek Mukka, baru denger sih sebenernya. Hmm.. sebenernya pengen yang Justmiss tapi nggak ada di tokonya.

1.       Mascara My Darling
Maskara My Darling ini mudah banget diaplikasiinnya. Teksturnya ringan dan cair, tapi hasilnya jadi tipis banget di mataku, mungkin ini cocok buat para remaja yang baru belajar dandan kali ya. Sementara aku kan bukan remaja lageee (udah, jangan bicara soal umur!). Tapi karena ringan jadinya gampang banget dibersihinnya, sebenernya bakalan hilang cukup dengan air dan facial wash, tapi aku tambah pake toner juga sih biar bener-bener bersih. Mataku juga nggak sakit waktu dibersihinnya karena bersihinnya nggak usah pake tenaga lebih kayak kalau aku pake maskara yang waterproof banget. Dan senengnya waktu dibersihin atau kena air maskaranya nggak bikin jadi kayak mata kuntilanak yaa.. (kalo orang bilang mata panda, aku disini bilang mata kuntilanak yaa.. karena serem sendiri sama jenis maskara dan eye liner yang meleber-meleber waktu dibersihin). Sayangnya maskara ini aroma kimianya kecium banget. Maskara ini termasuk yang tahan lama lho.


Dari segi kemasan, cukuplah ya. Plastik oke, kokoh, ukurannya juga pas. Botolnya bentuk tabung dengan tutup bentuk love bagian atasnya. Lubang botolnya juga pas nggak bikin isinya meleber kemana-mana. Panjang kuasnya juga pas sih menurutku, sayangnya ujung sikatnya lurus nggak dibentuk melengkung biar memudahkan waktu diaplikasiin.

Aku beli maskara ini di Dayti Rp 19.000 belum termasuk diskon 10% hehe..

Repurchase? Kapan-kapan-kapan-kapan yaa... lagi pengen cari maskara yang bikin bulu mata lebih tebel dan panjang biar jadi kembarannya Syahrini yang cetarrr.

Plus :
(+) Murah meriah tapi kualitas bagus
(+) Gampang dibersihin
(+) Ukuran dan bentuk kemasannya pas

Minus :
(-) Aroma kimianya kecium banget
(-) Hasilnya tipis banget
(-) Warna kemasannya jadul sih menurutku, mungkin bisa diubah agak lebih cetar?

2.       Eye Liner My Darling
Untuk eye liner aku juga beli merek My Darling, biar samaan gitu sama maskaranya. Eye liner ini ini teksturnya cair juga sama kayak maskaranya, staying powernya oke banget meski aku pake seharian dan meski wajahku udah berubah jadi kilang minyak. Gampang banget diaplikasiin begitu juga waktu dibersihin, nggak butuh tenaga ekstra dan nggak bikin mata jadi kayak mata kuntilanak. Walau sayangnya aromanya kimianya kecium banget, sama kayak maskaranya.


Untuk kemasan? Sebelas dua belas sama maskaranya. Bahkan kalau seandainya tulisan dibotol maskara dan eye liner ini pudar, dijamin bingung mana yang maskara mana yang eye liner kalo nggak dibuka dulu. Kadang untuk isinya sendiri, aku mikir kok maskara sama eye liner My Darling ini kayak sama itu-itu aja ya? Soalnya mirip banget sih...

Aku beli Eye Liner ini di Borma karena di Dayti waktu itu lagi kosong. Harganya Rp 16.900 tanpa diskon. Sama aja sih kayak harga di Dayti versi setelah diskonnya, beda 200 perak aja.

Repurchase? Insyaallah yes... *padahal dalem hati lagi lirik-lirik merek tetangga.

Plus :
(+) Murah meriah tapi kualitas bagus
(+) Gampang dibersihin
(+) Ukuran dan bentuk kemasannya pas

Minus :
(-) Aroma kimianya kecium banget
(-) Warna kemasannya jadul sih menurutku, mungkin bisa diubah agak lebih cetar?

3.       Eye Brow Mukka
Eye Brow? Asal comot aja yang penting ada sikat alisnya. Asalnya pengen merek Justmiss yang udah lengkap ada penserut dan sikatnya sekaligus, tapi ternyata lagi kosong. Akhirnya pilihan jatuh pada Mukka. Jujur aku baru denger merek ini. Aku pilih warna coklat dengan asumsi biar nggak kayak shinchan banget pas dipake. Tapi ternyata aku belum lulus ujian mengukir alis. Mungkin bulan-bulan kedepan bakal ikut ujian remedial ukir alis ya, do’akan mudah-mudahan aku lulus. Aamiin... Jadi selama ini aku belum pernah pake eye brow ini pas pergi-pergi, baru dipake sikatnya aja hahaha...


Teksturnya empuk, tapi aku jadi khawatir kalo seandainya ini dipake pergi-pergian bakalan bikin cemong-cemong pas keringetan atau kena minyak diwajahku. Soalnya eye brow ini gampang banget dihapusnya siih.. tapi entahlah.

Harganya Rp 8.000 kagak pake diskon di Dayti. Kenapa? Mungkin karena ini lokal atau belum seterkenal Justmiss atau mungkin juga harga segitu udah versi paling murah banget ya.

Repurchase? Hmm... ntar kalo aku udah lulus ujian ukir alisnya baru deh beli eye brow lagi... tapiiii merek lain ya, hehehee...

Plus :
(+) Murah meriah
(+) Udah ada sikatnya

Minus :
(-) Kayaknya nggak terlalu tahan lama
(-)Aku baru denger merek ini
(-) Teksturnya terlalu empuk

[Review] Blush On Duo Viva


OMG, baru kali ini beli blush on, bener-bener baru kali ini! Bahkan dulu waktu wisuda S1 aku dandan nggak pake blush on. Kenapa? Nggak beraniii takutnya malah cemong kayak ondel-ondel. Tapi kali ini ngeberaniin diri nyoba beli blush on setelah di instagram heboh blush on demam, blush on nyebrang, dan lain-lain (orangnya tuh korban sosmed banget ya, terlalu banyak terpapar sosmed nih).


Oke, sebenernya aku cuman beli blush on Viva ini satu shade aja yang nomor 02. Satunya lagi barteran sama temenku, barter yang tak seimbang sih sebenernyaa, wkwk.. Karena awalnya selain beli blush on Viva Duo yang nomor 02 ini, aku beli blush on Fin Touch warna Red-Orange yang bentuk kemasannya mirip eye shadow creamnya Viva. Blush on fin touch yang aku beli ini hasilnya matte dan nggak ada glitternya sama sekali tapi ada wanginya deuh plus nggak ada brushnya juga. Nah kalo blush on duo yang satunya yang beli itu temenku (nomor 01), ini berglitter, nggak ada wanginya dan udah ada brushnya. Temenku pengen yang matte sementara aku kagak punya brush, yaudah kita barteran padahal harganya jauh beda duh, temenku yang tekor sih kalo liat dari harga, hehe.. Tapi kan kita udah sepakat ya temans ;-D

blush on viva duo no 01

Akhirnya aku jadi punya dua blush on duo yang nomor 01 sama nomor 02 ini. Blush on duo ini sama-sama berglitter dan powdery, tapi untungnya nggak ada wewangian yang nganggu. Nomor 01 warnanya orange peach dan soft pink gitu deh, sedangkan nomor 02 sejenis warna dusty pink versi terang dan gelapnya. Dari segi kemasan udah oke lah ya, walaupun terbuat dari plastik tapi tetep kokoh dan nggak ringkih. Udah ada brushnya walaupun ukurannya kecil. Beberapa orang nggak nyaman sama brush bawaan eye shadow jadi mereka beli lagi brush set yang lebih gede, kalo aku? pake aja brush bawaannya dah, selain simpel kalo dibawa-bawa, kan hemat juga di kantong, wkwkwk.. *penyakit pelit selalu muncul.

blush on viva duo no 02

Untuk staying powernya lumayan tahan sekitar 5-6 jam kali ya diwajahku, itupun nggak kena apapun semisal air dan lainnya. Tapi setelahnya saat wajahku mulai berubah jadi kilang minyak, bye! Apalagi kalo dibasuh pas wudhu atau cuci muka, ya end. Harus touch up lagiii...

Harga blush on ini aku lupa. Antara Rp 21.000 atau Rp 23.000 belum termasuk diskon 10% DI Dayti.

Repurchase? Kayaknya enggak deh.. karena ternyata kulit wajahku agak sensitif sama sejenis brush-brush gitu, jadinya penasaran sama blush on creamnya Emina, hehe...

Plus :
(+) Paduan warnanya pas, tinggal cocokin aja sama warna kulit kita atau jenis riasan kita.
(+) Kemasannya kokoh walaupun terbuat dari plastik
(+) Nggak ada wewangian yang mengganggu
(+) Harganya murah
(+) Udah ada logo halalnya

Minus :
(-) Ada glitternya
(-) Teksturnya powdery banget

[Review] Lipstik Viva Nomor 23 dan 30


Jangan bosen sama Viva yaa... kali ini aku punya lipstiknya. Aku punya dua lipstik yaitu nomor 23 dan 30.

Awalnya aku beli yang nomor 23 karena berdasarkan review para beauty blogger yang kubaca nomor 23 ini bagus jadi yasudahlah aku nurut apa kata orang. Eh tapi ternyata kalo dibibir dan diwajahku nomor 23 ini warnanya terlalu gonjreng. Nomor 23 ini punya warna orange yang kukira agak orange bata tapi ternyata orange banget kalo di aku. Buatku yang nggak suka warna gonjreng akhirnya kuputuskan nomor 23 ini nggak cocok di aku.


Kalo disapukan satu dua kali hasilnya malah jadi matte loh dibibirku padahal ini termasuk lipstik satin finish, gatau kalo berkali-kali karena belum pernah nyoba. Nomor 23 ini ada sedikit glitternya, tapi masih aman kalo mau dipake sehari-hari. Pigmented? Yes!! Makanya aku cuma pake satu atau dua kali ulas aja.

Karena yang nomor 23 menurutku terlalu gonjreng akhirnya aku beli yang nomor 30. Niat awalnya sih beli yang nomor 05 karena katanya nomor 05 ini sewarna sama lipstiknya Taylor Swift di albumnya Red (huaaaa Taylor Swift idolakuuuh) makanya pengen banget beli. Tapi pas ke tokonya dan liat itu lipstik nomor 05 merah cabe banget ciutlah akuu.. wkwk.. Akhirnya nyari warna lain random aja, jatuhlah pilihanku pada nomor 30 kagak pake nyoba-nyoba dulu karena emang nggak disediain sampelnya. Dan jengjreeeng pas dicobain di rumah, nomor 30 ini warnanya pas banget dibibir aku, ini merah apa ya warnanya? Bukan marun bukan cabe, yang pasti nomor 30 ini cocok banget buat si bibir hitam. Kalo diulaskan tipis jadinya natural gitu, kalo diulaskan berkali-kali barulah keluar si warna merahnya. Yang ini juga hasilnya nggak tau kenapa agak matte dibibirku padahal lagi-lagi ini jenis satin ya. Pigmentednya lumayan walau nggak sepigmented yang nomor 23. Hmm... ternyata kalo ngikutin kata hati sendiri itu memang lebih baik ya daripada ngikutin apa kata orang.


Untuk sekelas lipstik murah tapi nggak murahan Viva ini bagus banget loh, terlebih Viva adalah merek legend yaa bukan merek abal-abal. Tapiii jangan tanya ini transferproof apa kagak, kalo lipstik jenis satin kan merek apapun pasti transfer kemana-mana ya. Termasuk lipstik Viva ini transfernya kemana-mana, pas ngaca dan nyadar kalo lipstiknya tinggal di pinggiran bibir doang karena abis makan atau minum, langsung touch up!!

atas no.30 ; bawah no.23

Ukurannya pas nggak kegedean nggak kekecilan. Warna kemasannya biru tua serupa varian Viva Queen yang lain. Wangi kedua lipstik ini nggak ganggu, emang ada aromanya tapi masih aman lah.

Harga lipstik ini Rp 12.500 belum termasuk diskon 10% di Dayti.

Repurchase? Hehe lain kali yaa.. tetiba tertarik sama para lip cream yang matte dan transferproof.

Plus :
(+) Harganya murah banget tapi nggak murahan ya karena Viva bukan merek abal-abal
(+) Nomor 30 warnanya cocok banget buat bibir hitam
(+) Ukurannya pas nggak ngabisin tempat
(+) Hasil akhirnya matte di bibir aku nggak tau kenapa padahal ini jenis satin

Minus :
(-) Gampang banget luntur dan transfer kemana-mana
(-) Nomor 23 warna orangenya terlalu gonjreng

[Review] Eye Shadow Cream Viva


Biasanya dulu sebelum aku terpapar akun-akun kosmetik, olshop, selebgram, beauty vlogger, dan beauty blogger, riasan wajahku cuman pelembab, bedak wajah, lipstik warna natural. Bahkan nun jauh waktu jaman sekolah dulu pakenya lip balm bukan lipstik. Tapi dunia berubah, teknologi berkembang, dan akupun mulai bermetamorfosis (ealah ngomong apa sih). Sekarang mulai pengen kenalan sama Eye Shadow. Untuk langkah awal aku beli eye shadow Viva.


Kenapa aku beli make up yang mereknya hampir seluruhnya Viva? Pertama karena murah (again) tapi nggak murahan. Aku baca review beberapa beauty blogger terkenal juga mereka pada bilang kalo Viva ini jadi salah satu merek lokal yang bisa diperhitungkan lah ya. Selain itu, Viva merupakan salah satu merek kosmetika lokal yang udah ada dari dulu banget, bahkan sebelum aku lahir, huhuyy senior nih Viva. Produknya yang legendaris nggak lain dan nggak bukan adalah Milk Cleanser dan Face Tonernya yang banyak variannya.

Eh tapi kali ini aku mau review eye shadownya ya.. Sebenernya Viva sendiri punya beberapa varian eye shadow, ada yang trio, duo, bahkan ada yang cuman satu warna kayak yang bakalan aku review kali ini. Nah untuk yang satu warna ini juga kalo nggak salah terbagi jadi beberapa kelompok, yang sayangnya aku nggak hafal sih, hehe.. coba buka web Viva nya langsung aja ya..

Ini kedua kalinya aku pake eye shadow Viva, yang pertama adalah waktu aku wisuda S1 tahun 2012 dulu. Waktu itu aku beli eye shadow Viva Duo yang warna orange sama kuning yang teksturnya powdery banget berglitter heboh yang kemasannya warna biru. Jadi waktu itu mamaku nggak ngizinin aku dirias di salon buat wisudaan, yakaliii harus udah ada di kampus jam 7 pagi, mau ke salon jam 5 subuh? Dipikir-pikir emang repot juga ya.. akhirnya mamaku malah nyuruh aku beli make up sendiri, dandan sendiri.. jadilah waktu itu aku dandan seadanya.. huhu... (stop malah jadi curhat).


Nah kali ini aku beli eye shadow Viva yang teksturnya krim, satu warna aja. Aku pilih warna coklat karena selain biar aman dan natural, eye shadow Viva ini kayaknya nggak terlalu banyak pilihan warna naturalnya sih.. Waktu aku beli pilihan warna yang tersedia kebanyakan pada gonjreng semua.. SPG nya bilang yang natural tinggal coklat aja, hiks.. ya sudahlah gapapa...

Eye shadow Viva krim ini teksturnya krim (yaiyalah namanya juga eye shadow cream) nggak ada kesan powdery sama sekali, sedikit berglitter tapi masih aman nggak seheboh yang varian duo. Aromanya juga biasa aja sih, nggak ada wewangian nyegrak khas Viva. Sementara dari segi kemasan, terbilang imut dan pasti nggak ngabisin tempat yaa.. Kemasannya terbuat dari plastik agak ringkih yang rentan pecah kalo seandainya jatuh (jangan sampe jangan sampee). Tutupnya terpisah dari wadah eye shadownya, coba kalo nempel kayak yang varian duo, kayaknya lebih aman deh. Trus eye shadow ini nggak ada kuasnya, jadi kalo nggak beli kuasnya terpisah ya pake tangan deh aplikasiinnya. Kalo aku sendiri sih beli kuas terpisah, soalnya agak repot juga sih kalo harus diaplikasiin pake tangan.


Pertama kali aku coba, cocok banget di aku, terlebih karena teksturnya yang krim jadi nggak takut masuk-masuk ke mata waktu diaplikasiin kayak varian duo yang powdery banget. Setelah dipake seharian, eye shadow ini lumayan masih stay merata di mata padahal aku pakenya nggak pake eye base dulu lho, dan wajahku ini tipe berminyak tapi dia tetep adem ayem. Eye shadownya nggak numpuk di daerah lipatan mata kayak eye shadow lain jenis powdery, pokoknya aku suka banget sama eye shadow cream Viva ini.

Bonuuuus yang bikin suka ku berlipat-lipat sama eye shadow ini adalah harganya yang murah banget!! Aku beli di Borma harganya Rp 9.900 tanpa diskon (Borma nggak ada diskon 10% kayak Dayti ya), tapi segitu aja udah murah. Eh tapiiii... waktu aku tanya di Dayti ternyata harganya Rp 8.900 belum termasuk diskon 10% dooong... aaah beteee... coba kalo beli di Dayti (ampuuuun penyakit cewek, beda seribu dua ribu aja dimasalahin, wkwk)

Repurchase? Yes!!!

Plus :
(+) Teksturnya krim
(+) Tahan lama merata diwajah berminyakku
(+) Ukurannya imut nggak ngabisin tempat
(+) Harganya super murah
(+) Udah ada logo halalnya

Minus :
(-) Kemasannya agak ringkih
(-) Nggak ada kuasnya
(-) Varian warna naturalnya mungkin harus lebih diperbanyak karena yang tersedia di store selalu warna gonjreng semua

[Review] Pixy UV Whitening Two Way Cake Cover Smooth


Sejujurnya, para pemilik kulit berminyak lebih disaranin pake bedak tabur ya, karena selain teksturnya yang ringan juga biasanya punya oil control yang bagus. Tapi yang namanya cewek pasti deh ya penasaran lirik-lirik compact podwer atau two way cake, aku banget tuh! Haha.. Trus kalo sekarang rasanya aku repot aja sih kalo pake bedak tabur. Padahal dulu dari jaman SD sampe kuliah aku pake bedak tabur. Nah begitu lulus kuliah mulai deh pindah ke compact powder atau juga two way cake.

Setelah sekian lama aku berpetualang dengan bedak Two Way Cake merek lain yang awalnya cocok tapi lama-lama wajahku jadi gatel, trus pindah ke Compact Powder (masih merek lain) yang emang ringan tapi nggak terlalu mengcover, akhirnya kali ini aku coba Pixy UV Whitening Two Way Cake Cover Smooth Shade 04 Natural Peach. Setelah galau pilih shade mana dan berakhirlah aku nanya-nanya mbak SPG Pixy yang untungnya baik dan sabar, maka kupilihlah Shade 04 Natural Peach. Hmm.. again yaa aku belum begitu mahir milih-milih shade buat warna kulit sendiri.
  

Karena baru awal, jadi aku beli yang refillnya dulu karena selain biar irit (atau pelit?), kemasan refill Pixy ini juga lucu banget sih menurutku, dibanding kemasan yang gede lengkap sama cerminnya aku lebih suka kemasan refillnya. Kenapa? Karena walaupun ada kacanya tapi bentuknya melebar kesamping gitu, masih nggak bebas ngaca sih menurutku kalo bentuknya kayak gitu, hehe..


Pixy kemasan refill ini warnanya biru soft, bentuknya agak kotak, ukurannya yang mini nggak ngabisin tempat, plus spons bedaknya yang bisa ditaruh didalem kotak bedaknya. Beda banget sama varian Pixy Perfect Fit yang sponsnya nggak bisa ditaruh didalem kotak bedaknya (jadinya kudu nyiapin tempat lain buat sponsnya atau disimpen lengkap dalem kardusnya, riweuh deh ah). Kalo Pixy yang ini simpel deh pas dibawa kemana-mana. Ah ya, jangan khawatir didalemnya ada plastik mika yang nempel langsung sama tempat bedaknya buat sekat antara bedak sama sponsnya, jadi bedak sama sponsnya masih tetep misah ya.

Dulu aku pernah pake Pixy Two Way Cake Perfect Fit sama Pixy Compact Powder Pure Finish tapi lupa dua-duanya shade apa. Menurutku semua bedak Pixy coveringnya bagus ya, bahkan yang compact powdernya pun coveringnya bagus. Biasanya kan kalo compact powder nggak begitu bisa mengcover ya setauku. Pixy Two Way Cake Cover Smooth yang sekarang lagi aku pake juga coveringnya nggak kalah bagus dari dua sodaranya tadi. Tapi waktu diaplikasiin diwajah, nggak tau kenapa varian Pixy Two Way Cake Perfect Fit sama Pixy Compact Powder Pure Finish rasanya berat aja diwajahku. Tapi waktu aku coba aplikasiin Pixy Two Way Cake Cover Smooth ini ternyata nggak berat diwajah, padahal aku pakenya barengan sama pelembab dan foundation juga.


Bedak Pixy ini juga ada wanginya sih sebenernya tapi nggak begitu ganggu dan wanginya hilang aja setelah diaplikasiin padahal hidungku termasuk hidung yang sensitif loh. Jadi inget dulu aku punya Viva Compact Powder yang kemasannya ungu muda, wanginya duuh ganggu sih dihidungku sampe akhirnya aku kasihin ke sodara deh tuh bedak karena nggak kuat wanginya. Staying power? Kayaknya oke deh seandainya aku pake foundation yang lebih bagus.

Aku beli bedak Pixy UV Whitening Two Way Cake Cover Smooth ini di Dayti, harganya aku lupa antara Rp 23.000 atau Rp 25.000 gitu, itu belum termasuk diskon 10% ya.

Repurchase? Maybe yes, tapi tergoda Pixy Compact Powder Coverlast yang kemasannya agak mirip BB Cushion yang sekarang lagi ngehits nih.. (hehe, korban kemasan)

Plus :
(+) Covering bagus
(+) Nggak kerasa berat diwajahku
(+) Wanginya nggak ganggu
(+) Kemasan refillnya bagus dan simpel banget (sponsnya bisa disimpen didalem kotaknya)

Minus :
(-) Aku nggak suka yang kemasan fullnya sih karena bentuk cerminnya yang melebar ke samping, kurang bebas sih kalo mau ngaca, hehe

[Review] Pelembab dan Foundation Viva


Sebenernya mungkin langkah awal dari bermake up adalah dengan membersihkan wajah dengan cara double cleansing ya, tapi aku udah review double cleansing yang aku pake dipostingan terdahulu yaa.. bolehlah dicek lagi postingan-postingan aku.. hehe.. Jadi sekarang aku mulai review langsung ke pelembab dan foundation aja... Kali ini aku pake pelembab dan foundation Viva.


1.       Pelembab Viva Green Tea dan Bengkuang
Awalnya aku pake pelembab Viva Green Tea karena berdasarkan review yang aku baca pelembab ini bagus buat ngontrol minyak di wajah padahal harganya murah meriah. Dan emang terbukti sejujurnya aku cocok sama pelembab ini, nggak ada keluhan berarti di wajahku cuman sayangnya karena ini varian green tea yang emang buat kulit berminyak, itu artinya nggak ada kandungan buat mencerahkan wajah sementara aku suka banget sama kosmetik yang ada kandungan buat mencerahkannya. Karena aku pake hijab, aku liat belang di wajahku mulai keliatan. Yaah.. warna kulitku nggak rata lagi deh..

Akhirnya setelah habis pelembab Viva Green Tea aku coba pelembab Viva Bengkuang. Semua orang pasti tau kalo kandungan bengkuang fungsinya buat mencerahkan. Tapi ternyataaa aku nggak cocok sama yang varian bengkuang ini. Wajahku jadi bruntusan dan agak memerah, ditambah Viva Bengkuang ini oil controlnya nggak selumayan Viva Green Tea, hiks.. lanjut nggak yaa lanjut nggak yaa.. Nggak deh yaa.. Tapi biar nggak mubazir akhirnya Viva Bengkuang ini aku jadiin lotion aja deh.. Lumayan lah karena ukurannya yang kecil jadi bisa dibawa kemana-mana.

Pelembab Viva Green Tea dan Bengkuang ini teksturnya kayak lotion, ada wanginya juga. Emang bener apa kata para beauty blogger kalo pas pake pelembab Viva ini kita berasa pake lotion di wajah. Cepet nyerap di kulit dan nggak lengket, nggak ada rasa perih-perih juga diwajahku. Untuk ukurannya 30 ml, sebotol isinya penuh. Dari warna dua-duanya sama-sama berwarna putih.

Nah untuk desain kemasannya sendiri, amat disayangkan sih menurutku. Desainnya jadul banget dimulai dari bentuk botolnya sampe tulisannya yang ternyata cuma nempel di plastik, jadi kalo kita sobek plastiknya, sobek pula lah tulisannya. Trus lubang botolnya yang gede banget dan nggak ada penyekatnya lagi juga sangat aku sayangkan. Jadinya tiap kali ngeluarin isinya aku agak deg-degan takut isinya meleber-meleber keluar karena tekstur pelembabnya pun agak cair. Tutup botolnya bentuk ulir bukan flip flop. Tapi karena harganya yang murah, apalah daya jika berharap lebih. Mudah-mudahan buat kedepannya tim Viva bikin kemasan rangkaian produknya biar lebih kekinian yaa.. Pelembab ini nggak bertahan lama di wajahku, juga nggak ada efek mencerahkan sama sekali buat kulit wajahku.

Untuk dua pelembab ini aku beli di toko kosmetik deket rumahku, namanya Dayti, disana jual berbagai merek kosmetik lengkap. Selain deket, yang bikin aku seneng adalah selalu diskon 10% untuk setiap produknya. Ramah di dompet kan yaa.. (alasan padahal akunya aja yang pelit, wkwk). Kenapa bisa diskon? Hmm.. biasanya toko kosmetik kayak gini ngambil barang langsung ke pabrik atau distributornya. Harganya? Viva Green Tea Rp 7.000 sedangkan Viva Bengkuang Rp 6.500 itu belum termasuk diskon 10% kalo di Dayti ya.

Repurchase? Kayaknya nggak dulu.. pengen coba yang lain yang ada kandungan pencerahnya yaa.. hehe..

Viva Green Tea
Plus :
(+) Oil controlnya lumayan bagus dan cocok diwajahku
(+) Cepat menyerap di kulit dan nggak lengket
(+) Murah dan isinya banyak
(+) Udah ada logo halalnya

Minus :
(-) Nggak bisa mencerahkan wajah
(-) Kemasannya jadul dan lubang botol nggak ada penyekatnya
(-) Masih mengandung paraben dan mineral oil yang kadang jadi masalah buat sebagian orang

Viva Bengkoang
Plus :
(+) Cepat menyerap di kulit dan nggak lengket
(+) Murah dan isinya banyak
(+) Udah ada logo halalnya

Minus :
(-) Wajahku jadi bruntusan dan kemerah-merahan
(-) Nggak ada efek mencerahkan juga di wajahku
(-) Kemasannya jadul dan lubang botol nggak ada penyekatnya
(-) Masih mengandung paraben dan mineral oil yang kadang jadi masalah buat sebagian orang
(-) Aromanya lebih tajam dibanding Viva Green Tea

2.       Foundation Viva Shade Natural
Untuk foundation aku beli Viva juga, niatnya biar samaan gitu sama pelembabnya. Waktu beli aku bingung pilih shade apa karena aku masih belum mahir buat nentuin shade apa yang paling cocok buat warna kulitku, kalo udah gini akhirnya aku minta saran SPG nya aja deh dengan harapan sang SPG lebih tau tentang produk yang dia pasarkan. Akhirnya aku beli yang shade Natural.

Pertama kali aku coba aku aplikasikan tipis-tipis dulu di wajah, aku pake foundation ini setelah pelembab Viva. Hasilnya kok nggak terlalu keliatan ya? Kayak nggak pake foundation aja. Dilain waktu aku aplikasikan agak tebel, aku ulangi ya, agak tebel.. jadi nggak tebel-tebel banget, lah kok jadinya nggak nyatu dikulit ya? Ditambah kilang minyak di wajahku terutama di T-zone jadinya kayak cemong-cemong gitu, duh deg-degan takut jadi keliatan kayak pake topeng deh, hiks hiks.. Oke, evaluasinya mungkin aku harus belajar lagi ya cara pake foundation yang bener kayak gimana, trus kapan-kapan aku coba lah ya sebelumnya pake primer dulu karena konon katanya primer bisa bikin riasan lebih membaur dan tahan lama, atau pake face mist setelahnya kali ya. Trus kalo aku tanya temenku yang pernah nyoba ini juga, foundation Viva ini ternyata emang kurang ngeblend di kulit sih yaa.. hmm...

Untuk teksturnya hampir sama kayak pelembab Viva ya, agak cair dan ada wanginya bahkan foundation ini wanginya lebih tajam dibanding pelembabnya menurutku. Oil control? Nggak deh. Dari segi desain kemasan sebelas dua belas lah kayak pelembabnya.

Foundation ini juga aku beli di Dayti, harganya Rp 6.000 belum diskon 10%.

Repurchase? Nooo...

Plus :
(+) Murah dan isinya banyak
(+) Udah ada logo halalnya

Minus :
(-) Masih mengandung paraben dan mineral oil yang kadang jadi masalah buat sebagian orang
(-) Aromanya lebih tajam dibanding pelembabnya
(-) Kemasannya jadul dan lubang botol nggak ada penyekatnya
(-) Kurang ngeblend sama kulit

Segitu dulu deh review dariku.. Karena kulit tiap orang beda-beda, jadi hasilnya pun pasti beda ya..

Belajar Dandan (lagi)



Perhatikan sejenak percakapanku dengan sang calon suami a.k.a Rangga AADC *lagihalu!
Aku : Rangga, sudah berapa purnama aku nggak nulis blog?
Rangga : Ratuuusaaan...
Wkwkwkwk

Ternyata, sebulan kemarin aku nggak nge-blog sama sekali ya, hehe.. Yaa biasa lah, orang (sok) sibuk.

Setelah berpikir keras tentang apa yang mau aku tulis kali ini, lirik kanan kiri seisi kamar kali aja ada yang bisa dijadiin bahan tulisan. Ternyata ada, aku mau cerita tentang seperangkat alat make up yang bulan lalu aku beli dan kenapa pula aku beli.

Cerita dulu dikit, tetiba aja aku pengen belajar dandan (lagi). Kenapa (lagi)? Karena dulu pernah belajar dandan buat pertama kalinya, belajar pake skin care, eyeliner, maskara, dan temen-temennya. Tapi nggak dilanjutin karena keburu males lagi, rasanya ribet aja gitu ya kalo tiap hari harus make up an. Kalo aku masuk kerja jam delapan jangan-jangan aku harus bangun jam tiga gegara dandanku lama, wkwk lebaaaayy. Ah pokoknya dulu tuh ya keburu males aja dah.

Eh bulan-bulan lalu tetiba pengen belajar dandan lagi. Keinginan belajar dandan ini disponsori oleh liat akun instagram merek-merek kosmetik dari yang murah sampe mahal, liat olshop-olshop yang pada jual berbagai kosmetik, liat selebgram yang mukanya pada kinclong, eeeh tapi pas liat cermin ini muka kok kusam bener ya? Akhirnya jadi pengen bisa dandan deeh... Aku jadi pengen tau gimana caranya riasan tetep stay walau seharian nggak touch up ditengah kilang minyak diwajahku, atau pengen tau juga gimana caranya make up glowing, flawless, matte, daaan lain-lain...

Dulu pernah ikutan beauty class, tapi kayaknya ilmu per-make-up-an lebih bisa terserap otakku kalo aku liat beauty vlogger di youtube atau baca review beauty blogger ya, trus.. udah gitu dipraktekin deh..

Akhirnya kulangkahkan kaki ini menuju toko kosmetik dan supermarket deket rumah, misi dimulai!!! Tapi kali ini ada yang beda, kalo dulu pas pertama kali belajar dandan aku langsung beli kosmetik merek terkenal (yang artinya harganya pun lumayan), kali ini aku beli kosmetik yang harganya murah-murah dulu. Kenapa? Karena pengalaman dahulu kala kosmetikku berakhir di tempat sampah dalam kondisi kadaluarsa karena dah lama banget dianggurin, hiks hiks mubazir iiiih..

Setelah semuanya terkumpul, mulailah aku praktekkan ilmu-ilmu para beauty vlogger dan beauty blogger yang selama ini kuarsipkan. Dimulai pake pelembab lancaar, foundation lancaar, bedak padat lancaar, lipstik lancaar, blush on lancaar (ini pertama kalinya aku pake blush on), eye shadow lancaar, eye liner lancaar, maskara lancaar, pensil alis kagak lancar dooong hiks (ternyata aku harus ikut remedial ngalis).

Sebenernya lebih baik skin care ya daripada make up, karena skin care itu merawat dan melindungi wajah sedangkan make up mungkin cuma menutupi kekurangan di wajah aja. Tapi yaudahlah ya namanya juga cewek, pasti gemes aja kalo soal kosmetik, jangan tanya dulu soal kandungan kosmetiknya, liat packagingnya aja udah tergoda kan, wkwk...

Dan tadinya mau aku review dipostingan ini semua produknya, tapi jadinya panjang bener... akhirnya aku pecah jadi beberapa postingan. Beberapa postinganku setelah ini isinya review semua ya.. hehe..

Jumat, 22 Desember 2017

Tulisan Dipenghujung 22 Desember


Setelah beberapa bulan terakhir jarang banget sakit, Qodarullah hari ini aku sakit dan aku putuskan full istirahat di rumah. Tapi rasanya keinginan buat nulis tetep ada ya, Alhamdulillah. Meski awalnya bingung mau nulis apa tapi tetiba inget hari ini tanggal 22 Desember yang bertepatan dengan Hari Ibu.

Mulai dari pagi sampe barusan hari udah malem, seluruh media sosial diramaikan dengan postingan ucapan selamat hari ibu. Di satu sisi aku seneng bahwa betapa kedudukan seorang ibu begitu tinggi hingga ditetapkan satu tanggal untuk memperingatinya, tapi di sisi lain aku amat sangat berharap bahwa hari ibu nggak cuma hari ini aja tapi setiap hari.

Bicara tentang ibu nggak akan lepas dari sosok wanita. Bukan cuma tentang seorang wanita yang udah menikah dan jadi seorang ibu buat anak-anaknya tapi juga tentang wanita yang suatu saat akan menikah dan bakalan jadi seorang ibu pula.

Semua orang pasti tau banget kalo jadi seorang ibu adalah hal yang nggak mudah. Untuk seorang ibu yang jadi ibu rumah tangga sekaligus berkarir di luar rumah, maka manajemen waktu, pikiran, tenaga dan lain sebagainya pasti bener-bener harus dipikirkan sesuai porsinya masing-masing. Tapi jangan pula ngeremehin seorang ibu yang full jadi ibu rumah tangga aja, 24 jam berada di rumah dengan segala kondisi di dalamnya. Para ibu rumah tangga yang juga berkarir maupun yang full di rumah sama-sama hebat, mereka menghadapi segala tantangannya masing-masing menurutku.

Terkadang ada perasaan cemas dibenakku apakah suatu hari nanti aku bisa menjadi ibu yang baik untuk keluarga dan anak-anakku ataukah tidak. Rasanya terlalu banyak hal yang belum mampu aku lakukan. Mungkin itulah kenapa akhirnya aku tersadar bahwa menjadi seorang ibu adalah posisi paling hebat menurut pendapatku.

Menjadi seorang ibu di akhir zaman seperti saat ini, menurutku seorang ibu tak cukup hanya mahir dalam mengurusi segala keperluan rumah tangga saja, tapi juga harus mahir dalam mengokohkan aqidah putra-putrinya. Hanya itu? Enggak. Nyatanya dalam cara mendidik pun harus berhati-hati karena seorang ibu adalah madrasah pertama bagi putra-putrinya.

Kilas balik sejenak, tentang perjalanan hidup yang aku lalui mungkin juga adalah bagian dari persiapan untuk masa depanku. Dimulai dari aku yang pernah berprofesi sebagai pengajar yang terkadang betapa aku ngerasa lelah yang amat sangat karena selain tugasku mengelola kelas aku harus menyelesaikan tugas-tugas lainnya. Bandingkan dengan seorang ibu yang 24 jam mengurusi rumah dengan segala keadaannya, maka aku harus bersiap dengan itu. Lalu terkadang liat berbagai karakter anak sesuai dengan didikan orang tuanya atau liat cara orang tua memperlakukan anaknya di depan umum, ada yang bikin kita takjub ada juga yang bikin miris, dari hal itu pula lah aku makin tersadar bahwa mendidik anak nggak bisa asal-asalan. Menjadi seorang ibu dibutuhkan amat banyak ilmu, ada ilmu yang bisa kita persiapkan jauh-jauh hari dari sebelum kita benar-benar jadi seorang ibu, ada juga pengalaman yang mungkin akan dijadikan sebuah hikmah atau pelajaran saat kita benar-benar sudah menjadi seorang ibu kelak.

Terakhir, mungkin ini lebih kepada sebuah cita-cita. Betapa aku sangat berharap bisa menjadi seorang ibu yang bisa meraih pendidikan setinggi-tingginya apapun profesiku kelak, pun berharap semoga suatu hari nanti anak-anakku pun bisa memiliki pendidikan lebih tinggi dariku. Karena menurut pandanganku, menuntut ilmu dan menjadi seorang ibu adalah dua profesi yang amat sangat mulia, yang semoga dengan cara itu bisa semakin mendekatkanku pada Sang Maha Pencipta, dan menjadi tabungan kebaikanku untuk di akhirat kelak. Aamiin...

Kamis, 07 Desember 2017

Kenalan Sama Gamis Seply yang Lembutnya Sampai ke Hati


Beberapa tahun terakhir ini di Indonesia makin ngehitz para muslimah menggunakan busana syar’i. Alhamdulillah banget ya kalo semakin banyak muslimah yang menutup aurat. Menurutku, itu jadi salah satu langkah kebaikan buat para muslimah Indonesia. Step by step, bertahap, berproses, belajar menjadi lebih baik lagi. Diimbangi dengan meluruskan niat kembali bahwa menutup aurat bagi seorang muslimah yang sudah baligh adalah kewajiban bukan sekedar gaya-gayaan.

Ngomongin soal pakaian, mau apapun model pakaian tersebut pasti yang jadi pertimbangan kita adalah pertama bahannya yang harus menyerap keringat, nggak kaku, nggak bikin kulit iritasi, nggak nerawang, dll,, kedua model pakaiannya yang harus banget bikin si pemakai tetep bebas bergerak apapun model pakaiannya apalagi kalo si pemakai terbiasa mobile kesana kemari,, dan kalo buat cewek-cewek pasti nggak bisa lepas dari motifnya ya, hehe... yang girly pasti suka banget milih motif bunga-bunga, ya kan???

Nah, kalo ngomongin busana syar’i, pasti deh ya yang pertama muncul dibenak kita ya gamis. Dan kalo ngomongin brand-nya sekarang udah banyak banget brand-brand yang ngeluarin produk busana syar’i. Tapiii... tau brand Ethica kan? Ethica punya lini brand yang namanya Seply. Yuk, kita kenalan sama gamis Seply ini...


Dengan mengusung tagline “Lembutnya Sampai ke Hati” Seply menawarkan beragam produk busana syar’i, salah satunya gamis yang dinamai Gissel kayak yang aku punya ini. Gamis Gissel dari Seply ini punya bahan yang lembut dan ringan banget plus nggak nerawang juga. Didesain dengan memadukan dua bahan berbeda juga dengan dua motif berbeda. Bahan pertama dengan motif bunga-bunga yang kalem dan cantik yang kalo nggak salah itu semacam bahan katun kali ya, jadi tetep menyerap keringat, bahan kedua aku nggak tau namanya ini bahan apa tapi yang pasti bahannya lembut, ringan tapi nggak nerawang. Gamis Gissel yang aku punya ini warnanya dusty ungu, warna kalem tapi tetep cerah ya. Desain gamisnya juga unik ya, ada aksen di bagian dada, bawah dan tangan. Buat para muslimah yang mobilitasnya tinggi jangan takut, gamis Seply ini punya desain lebar di bagian bawahnya, line-A gitu jadi nggak akan ngehambat gerak kamu (cie bahasanya). Ukurannya? Jangan khawatir.. Gamis Seply punya beragam ukuran yang detail kok.


Ah ya, gamis Gissel ini punya beragam model dengan nomor seri yang berbeda. Bisa cek di ethicafashion buat lebih tau model gamis yang lainnya. Harga yang ditawarkan juga bersaing lah ya dengan brand-brand ternama lainnya, jadi jangan takut kemahalan ya...


Masih ragu buat beli gamis dari Seply ini? Hayuuk langsung datang ke store-nya Seply (Ethica) buat buktiin sendiri gimana nyamannya gamis Seply ini. Jangan lupa ajak sahabat-sahabat dan keluarga kamu ya...

Makin Melek Inklusi dan Literasi Keuangan Bersama Home Credit #BisaJadiJADIBISA

Menutup bulan Oktober dengan sharing tentang acara keuangan yang aku ikuti beberapa hari yang lalu. Yups , Kamis, 27 Oktober 2022 yang berte...